Wednesday, December 13, 2017



Beberapa hari belakangan beranda sosial media dan beberapa situs web nasional diwarnai dengan ramainya berita soal kesalahan tulis ayat Al-Qur'an yang dilakukan oleh seorang ustadhah di salah satu televisi, dan bagi kebanyakan ahli agama kesalahan tersebut masuk dalam kategori kesalahan yang sangat fatal, bukan kesalahan yang sederhana. Dan ternyata kesalahan tersebut tidak hanya terjadi satu kali, tapi dua kali.

Fenomena demikian mungkin bukan pertama kali dan satu-satunya jenis kesalahan fatal yang dilakukan oleh ustadh-ustadhah outsorching yang muncul ditipi.

Sebentar, sebentar... Ustadh outsorching?
Kok, rasanya yang outsorching itu bukan ustadh, deh. Tapi tenaga kerja disektor lain yang tidak ada hubungannya dengan agama, yang sifatnya dikontrak?

Maksudnya seperti ini, ustadh outsorching ini memang tenaga kerja yang dikontrak televisi yang dalam batas waktu tertentu kontraknya habis dan harus diperbarui. Dan anda tahu sendiri bagaimana kwalitas ustadh televisi sekarang 'kan? Jadi mereka para ustadh-ustadhah itu terkadang dengan kwalitas seadanya bekerja sebagai tenaga kontrak televisi untuk mengisi acara pengajian agama, sebagai pengasuhnya, dimana idealnya ajaran agama diasuh oleh orang yang mumpuni dalam bidang tersebut agar tidak terjadi masalah sesat dan menyesatkan umat. Kemampuan seadanya yang dimaksud disini semisal orang yang tidak pernah belajar agama secara intens, hanya melalui satu pengajin ke pengajian lain yang mana mutu pengajiannya juga diragukan, namun karena pernah membintangi sinema reliji yang pernah booming tiba-tiba menjadi ustadhah dan banyak pengikut, atau kabar terbaru, seorang pelawak yang kelihatannya dalam hal beragama juga ala kadarnya, bahkan bisa dibilang sangat minim, dia hanya lucu dengan arti yang sebenarnya tapi secara tiba-tiba langsung jadi ustadh dan mengisi pengajian. Bukankah ini fenomena yang lucu?

Jadi agama seakan-akan menjadi salah satu acara hiburan di televisi. Bukan sebagai sarana pencerahan spiritual bagi umatnya, atau bahkan tema agama dijadikan lelucon yang tidak lagi sakral sebagaimana mestinya agama. Islamotainment, demikian istilah yang bisa jadi tepat untuk fenomena semacam ini, dimana islam hanya sebagai tontonan di layar kaca, bukan tuntunan sebagaimana tujuan islam di"ada"kan.

Tapi, lagi-lagi, perlu diingat televisi ada untuk menghibur jikapun ada misi mendidik itu hanya agar pantas dan formalitas didepan publik. Dan, apapun yang ditampilkan di tivi adalah dagangan para pemilik stasiu tivi. Prinsip berdagang adalah, apapun yang laku layak untuk diperdagangkan jikapun tidak laku, maka dibuat sedemikian rupa agar laku meskipun itu harus "melompat pagar" yang telah ada.***
(Juru Paido)


Kredit Gambar:https://goo.gl/i53y7f

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon