Thursday, December 14, 2017




Pada dasarnya, aku tak terlalu suka pelajaran Bahasa. Namun aku tak pernah bolos kelas tersebut. Selalu masuk paling awal dan duduk di kursi terdepan. Seluruh kelas tahu betul apa alasan tabiatku itu, dan tak malu aku mengakuinya. Itu karena dialah yang menjadi pengajar, orang yang sangat mempesona itu.

Pak Anies.

Sungguh, tiap kali beliau masuk dan menyapa kelas, aku bisa merasakan darahku berdesir. Senyum selalu terkembang lebar sebagai reaksi.

"Mas Sandi? Apa ada hal yang menarik kok senyum-senyum?" Mendadak beliau bertanya. Sial! Aku kepergok melamun.

Ini sungguh kesan buruk.

"A-anu, Pak. Saya hanya teringat motor yang tadi lewat trotoar. Entah mengapa kok saya beranggapan bahwa trotoar itu untuk motor saja, demi mengurangi kemacetan."

Pak Anies bertepuk tangan kecil. "Wah, sebuah ide yang unik. Tetap semangat ya, Mas Sandi. Semoga cita-cita anda terwujud."

Ya Tuhan Ya Tuhan Ya Tuhan!!! Apa aku baru saja disemangati Pak Anies yang tersayang? Mimpi apa aku semalam? Atau apakah Pak Anies mulai bisa menyadari perasaanku yang besar?

"Semoga ketika itu terjadi, Pak. Anda yang jadi gubernurnya," balasku.

"Aamiin."

"Saya dengan senang hati, kok, jadi wakilnya," ucapku dengan pipi bersemu.
(Laks. Faiz)


Kredit Gambar: http://bit.ly/2Bl1Mqa

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon