Saturday, December 23, 2017



Aktualisasi diri sesungguhnya adalah hak semua manusia untuk mengekspresikan apa yang dipikirkan atau dirasakan. Negara kita yang (katanya) demokratis, juga menjamin itu di dalam undang-undang pasal 28 tentang kebebasan berpendapat. Sayangnya, di dalam aktivitas berekspresi tersebut selalu ada pihak yang tidak senang dengan pendapat yang bersangkutan. Akan tetapi, yang akan dibahas di sini bukanlah tentang pro dan kontra seseorang atas suatu pendapat, melainkan cara menyikapi pendapat tersebut.

Oke, kita bahas hal lain dulu yang tidak ada hubungannya dengan hal di atas. Kita tentu menyadari bahwa seiring dengan berlangsungnya persidangan Setya Novanto, meme tentangnya juga makin jarang. Tidak jelas sebabnya, bisa karena protes si pembuat meme melalui karyanya sudah terpenuhi, atau dia cuma sekedar kehabisan bahan.
Ngomongin meme, ingat bagaimana Frederic Yunadi menyikapi keberadaan meme tentang Setnov atau dirinya? Ya, ngamuk masa.
Padahal seyogyanya, sebagai seorang dewasa ia bisa dengan bijak membalas sesuatu yang diarahkan padanya. Masa ditabok balesnya bacok?

Meme itu karya, mas, mbak, dan para tante. Begitu juga tulisan. Apabila anda tersinggung karena karya, balas dengan karya. Kontekstualitas itu yang menandakan kebijaksanaan seseorang.

Hahaha, iya. Kalau masih merasa marah terhadap tulisan lalu membalas dengan intimidasi, perlu ditanyakan lah kedewasaannya.
Iya, sayang, tulisan ini buat kamu. <3

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon