Wednesday, December 6, 2017





Awalnya, tulisan mengenai "Manusia Bermerek" itu akan dibuat seperti ini:

Manusia hidup, berakal, dan mempunyai keinginan akan sulit untuk melepaskan diri dari kebutuhan-kebutuhan. Mulai dari yang sangat penting hingga sesuatu yang tidak penting sama sekali. Kebutuhan penting adalah kebutuhan yang berkaitan erat dengan bertahan hidup serta kebutuhan  dengan urusan kewarasan. Kebutuhan yang tidak penting sama sekali adalah kebutuhan untuk memenuhi hasrat-hasrat semu semisal trend agar tampak kekinian.

Dulu, kata orang, kebanyakan orang berusaha memenuhi kebutuhan untuk sekedar bertahan hidup. Namun, karena zaman berkembang perilaku untuk berkebutuhanpun berubah. Terlebih saat orang-orang mulai berfikir bahwa trend dan gaya hidup merupakan suatu hal yang penting hal ini menandakan bahwa pola konsumsi masarakat telah bergeser menjadi pola konsumsi masarakat modern . Seperti kata salah seorang terkenal dalam kancah pemikiran, Baudrillard, pola konsumsi masarakat yang bergeser dari kebutuhan menuju gaya hidup merupakan tanda bahwa masarakat telah memasuki era modern. Masih menurut Baudrillard tadi, masarakat modern merupakan bagian dari korban sampah visual yang kemudian disebut iklan. Masarakat ini lebih cenderung mengkonsumsi simbol dari pada fungsi yang sebenarnya.

Mengkonsumsi simbol bisa diartikan, mereka lebih mementingkan merek dari pada fungsi dari sesuatu. Misalnya, banyak orang memilih celana jeans bermerek internasional, meskipun palsu, dari pada memakai celana jeans merek lokal yang asli. Padahal, fungsi dari celana sendiri sama yakni agar tidak bagian yang dipakaikan celana tidak kedinginan, misalnya atau alasan lain yang relevan.

Orang-orang yang demikian ini kemudian tanpa pandang bulu, apapun yang bermerek dan terkesan mahal sehingga mampu memenuhi hasrat gengsinya akan mereka beli tanpa mempertibangkan fungsi dan manfaatnya. Pola konsumsi yang demikian ini, juga menandakan masyarakat kekinian telah kehilangan daya kritisnya dalam mengkonsumsi sesuatu, sebab mereka akan terus mengikuti arus trend dan gaya hidup yang oleh Herbert Marcuse disebut One Dimensional Society yang mana masarakat lebih memilih untuk "to have" dari pada "to be". Yang artinya, merek dan benda-benda mahal merupakan bagian dari simbol status sosial dan simbol kesuksesan yang seakan-akan wajib untuk tercapai. Misalnya, orang akan merasa sukses dan dipandang sukses jika mereka telah memiliki mobil mewah.

Namun, karena TimBul (Tim Bully) tjangkir.com menganggap tulisan tersebut terkesan tidak ramah dan tidak baik bahkan dianggap tidak serius,  maka tulisan tersebut disarankan dan akhirnya disesuaikan seperti di bawah ini:

Orang jaman sekarang memang "kemalan", sok-sokan, apapun yang tidak bermerek dianggap tidak gaul dan tidak kekinian. Meskipun sesuatu yang dibutuhkan antara yang bermerek dan tidak bermerek fungsinya sama mereka lebih memilih yang bermerek meskipun harganya lebih mahal berlipat-lipat dibanding yang tidak bermerek agar mereka bisa memenuhi standar gaul dan kekinian atau yang lebih parah agar mereka mendapat gelar kaum sosialita. (Juru Paido)

***

kredit gambar: https://tinyurl.com/yayeq4lr

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon