Saturday, December 2, 2017

Anggaplah anda sedang di warung kopi. Anda butuh koneksi cepat untuk mengirim kerjaan atau tugas, tapi koneksi wifi warung sedemikian lelet. Anda dikejar waktu dan mulai panik. Tidak tahunya, meja sebelah asyik streamingan YouTube sambil download dengan IDM pula. Bandwidth se-warung kopi habis dilahap sendiri (ilustrasi boleh diganti sesuka hati).

Pokoke ngamuk

Stop. Apa yang akan Anda katakan? Ya, silakan diabsen sendiri. Rentetan kata benda, kata kerja, dan kata sifat tertentu Anda ucapkan.
Apa yang baru anda lakukan ini dan mengapa?

Mengumpat. Sebuah tindakan mengucapkan kata tertentu, salah satunya sebagai pelampiasan kemarahan. Menurut Sudaryanto (saya tidak tahu dia siapa, tapi saya cantumkan juga agar tulisan ini agak lebih dipercaya), dalam proses bahasa bukan hanya unsur logis yang berpengaruh, tapi juga unsur afeksi, yaitu segala sesuatu yang pada dasarnya telah mengandung rasa dan emosi.
Jelaslah bahwa ketika seseorang mengumpat, dia tengah berusaha mengatakan kepada siapapun yang mendengar bahwa ia mengalami hal emosional, yakni marah.

Lho, kemana arah tulisan ini? Tenang, berangkat saja belum kok sudah tanya tujuan.

Ketidaksabaran anda juga salah satu wujud kemarahan.
Tapi kemarahan sendiri apa? Kemarahan adalah cara makhluk hidup melakukan agresi, pemberian ancaman kepada pihak lain agar kondisi berubah seperti yang diinginkan. Bisa diibaratkan, kemarahan adalah senjata pamungkas.

Disebut pamungkas, sebab dikeluarkan paling akhir. Manusia sebagai makhluk hidup unik yang diberi kemampuan menalar paling tinggi, seyogyanya menggunakan senjata-senjata selain agresi lebih dulu, sebab sesungguhnya selain agresi ia memiliki kemampuan diplomasi.

Senjata pamungkas dalam setiap kisah silat adalah jurus paling kuat dan hanya digunakan dalam keadaan terdesak. Senjata yang sering digunakan memang senjata favorit, tapi bukan yang paling efektif. Begitupun halnya dengan agresi dan diplomasi, ketika agresi terlalu sering digunakan maka tingkat ke-pamungkas-annya pun akan perlahan memudar. Keefektifannya juga otomatis berkurang.

Kaitannya dengan ilustrasi di awal tadi sebenarnya tidak ada, akan tetapi saya bersyukur karena pengelola website ini menerima segala tulisan seberapapun ampasnya. Dan sebagai wujud rasa terimakasih, akan saya tarik benang merah sebisa saya.
Umpatan, sebagai salah satu ekspresi kemarahan, merupakan senjata sakral nan pamungkas seseorang. Ia adalah benda yang tidak bisa sembarang digunakan, bahkan mungkin setiap malam satu Suro harus dimandikan. Umpatan adalah batas kesabaran seseorang, sekaligus peringatan bagi orang lain.

Namun jika peringatan terlalu sering digunakan, bukankah orang akan terbiasa? Ya, to? Makanya jangan terlalu gampang misuh, cok! :D

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon