Sunday, December 24, 2017

“Semua benar secara relatif, tidak ada kebenaran tunggal dalam sejarah peradaban manusia.”

~Michael Foucault~


Sedang ramai di masyarakat persoalan keputusan Mahkamah Konstitusi pada 14 Desember lalu tentang tidak adanya pidana bagi pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Hal ini mendapat beragam respon dan perspektif di kalangan masyarakat. Secara umum memang masyarakat menolak fenomena LGBT ini. Akan tetapi disana juga ada yang merasa prihatin dan pro terhadap LGBT. Disini saya tidak akan menulis tentang perspektif pro dan kontranya, akan tetapi alangkah lebih baik kita ketahui dahulu bagaimana penyelewengan seksual ini bisa hadir di masyarakat.
Seorang homoseksual atau lebih umum disebut LGBT dikatakan abnormal atau gila karena berbeda dari dominasi peradabannya yang heteroseksual. Karena secara umum manusia memang terlahir untuk berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga diantara banyak manusia, tertarik pada sesama jenis kelaminnya. Faktanya pun memang sedang ramai diperbincangkan.
Mengapa sih LGBT ini ditentang banyak orang? Jawabannya, jikalau seseorang itu hidup di dalam peradaban yang menganut pola homoseksual, maka orang itu disebut normal. Sedangkan orang-orang yang heteroseksual disebut abnormal. Karena peradaban itu muncul sebagai penentu normal dan tidak normal. Sementara peradaban itu dibentuk oleh kekuasaan, dan kekuasaan ditopan oleh pengetahuan. Sekiranya begitulah kata buku yang saya baca, dan ini menarik sekali untuk dikaji. Karena kekuasaan sangatlah kuat pernyataannya hingga mampu membentuk pandangan dan opini publik.
Banyak yang mendukung adanya fenomena LGBT dengan alasan Hak Asasi Manusia. Menurut HAM, LGBT ini memang sah-sah saja. Kepuasan seks pribadi memang menjadi pilihan masing-masing individu. Jikalau ada akibat-akibat berupa penyakit itu masalah pribadi juga. Orang terjangkit penyakit, secara sadar dan merupakan spontanitas otak manusia, ya disembuhkan.
Disisi lain, LGBT mendapat kecaman keras dari umat muslim karena dalam agama mereka LGBT memanglah dilarang. Pasal ini berdasarkan ayat yang menyatakan bahwa Tuhan memusnahkan kaum salah satu nabi, yaitu Nabi Luth, akibat kaumnya kebanyakan homoseksual.
Saya pun teringat ketika diskusi bersama dosen saya, ternyata ada sebab-sebab tersendiri mengapa ayat Tuhan itu diturunkan. Ketika itu, kaum Nabi Luth adalah kaum yang normal. Mayoritas kaumnya adalah pedagang. Suatu saat ada orang-orang dari luar kelompok yang sering datang ke perkampungan kaum Nabi Luth dan melakukan monopoli dagang. Kaum nabi Luth pun diresahkan oleh tindakan tersebut. Lalu ada inisiatif untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang pelaku monopoli itu dengan cara orientasi seks, yaitu sodomi. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dengan tujuan memberikan efek jera kepada musuh dagangnya, kaum nabi Luth menjadikan fenomena homoseks dan LGBT sebagai suatu kebiasaan.
Berbeda lagi dari perspektif psikologi, dengan alasan trauma, pengaruh lingkungan, dan masalah-masalah pribadi lainnya menjadi hal yang menjadi sebab rasa sukannya terhadap sesama jenis. Bahkan selain rasa suka, seringkali juga tuntutan kehidupan yang tidak bisa ditolak. Tetapi, dilihat dari sisi biologis manusia, lebih spesifik terkait pelestarian keturunan dan ras, LGBT ini tidak dibenarkan. Karena hanya hubungan seks antar lawan jenis lah yang mampu menghasilkan keturunan.
Dari banyaknya bahasan LGBT, sebenarnya yang paling akut adalah jika dikaitkan dengan agama. Dan inilah yang terjadi di Indonesia. Di negara ini apapun mesti dikaitkan dengan agama. Entah itu politik, ekonomi, bahkan LGBT. Seperti telah saya jelaskan diatas, konteks dahulu dan sekarang sudah berbeda. Sekarang, dengan adanya peraturan dan undang-undang, keamanan dan kenyamanan warga dijamin oleh negara. Maka persoalan LGBT ini tidak ada masalah, apalagi LGBT ini bukanlah hal yang bertindak kriminal.
Tetapi, yang jadi catatan saya adalah, etika dan norma di negara kita. Indonesia memiliki nila-nilai luhur tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan negara lain. dengan alasan apapun, HAM dan kebebasan, negara sudah semestinya menjunjung tinggi etika dan kesopanan. LGBT adalah hal yang dirasa tidak sesuai dengan adat dan nilai luhur bangsa.

aRn



Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon