Tuesday, November 7, 2017


Awalnya, sambil menunggu download beberapa judul film dengan kecepatan internet yang sangat fantastis, mencapai 60 KB/s dan 3 film saya download bersamaan, agar selesai lebih cepat, jadi saya "sambi" untuk uthak-uthik blog ini. Mengganti beberapa tampilan yang sebenarnya tidak penting sama sekali. Namun karena ktidakpentingan itu, saya jadi penasaran, kok bisa ya..

Sambil uthak-uthik tadi, saya sedikit berandai-andai. Jika, saya menjadi DPR seperti Papa. yang pasti saya akan kaya, sekaya Papa. Tapi percaya atau tidak, sekaya apapun Papa tidak pernah menunjukkan kekayaannya papa ini adalah makhluk yang sangat sederhana. Sesederhana beliau tiba-tiba sakit saat dipanggil KPK dengan alasan melayani rakyat. Namanya juga wakil rakyat, memang sudah menjadi kewajiban beliau untuk melayani rakyat. Semisal, terkait KTP yang dicetak sebagai tanda bukti bahwa pemilik KTP adalah rakyat Indonesia yang sebenarnya, bukan penyusup. Beliau berusaha sekuat tenaga agar KTP dicetak sedemikian rupa dengan budget yang mahal agar KTP untuk rakyat ini awet dan tidak mudah rusak. Tahu sendiri 'kan, bagaimana kualitas kita dalam merawat surat atau kartu-kartu penting? kita kadang terlalu sembrono sehingga surat-surat dan kartu-kartu penting ini cepat rusak bahkan hilang. Maka, oleh wakil rakyat diusahakan agar KTP ini awet, tahan lama dan panjang masa berlakunya bahkan diharapkan bisa serba guna, bisa untuk ngutang ke pedagang sayur keliling, misalnya. Tak terkecuali karena Papa adalah wakil rakyat teladan maka beliau juga terlibat dalam Budgeting KTP elektronik ini untuk memperjuangkan hak-hak rakyat.

Hanya sayangnya, karena KTP ini kelewat mahal, akhirnya Papa dituduh yang tidak-tidak. Korupsi, kata orang. Pada hal belum terbukti 'kan kalau beliau korupsi? Papa sudah terlalu kaya untuk korupsi yang hanya sekian triliun budget KTP ini, bagi Papa ini  ndak level kalau ambilnya hanya sedikit. Jadi beliau juga tidak mau ambil resiko untuk datang saat dipanggil KPK karena beliau tidak merasa ikut bancaan uang KTP, lihat saja diberita-berita saat beliau ditanya soal kasus yang menyangkut beliau, jawabannya di dominasi kata "tidak tahu", "lupa", dan "tidak kenal". Bisa saja beliau memang tidak ikut bancaan, sebab bancaan itu berkumpul untuk membagikan sesuatu, dan beliau tidak ikut kumpul para koruptor yang sedang bancaan hanya saja mungkin beliau hanya telpon ke yang bersangkutan dan bicara "aku bagehono", dan ini bukan tindakan bancaan. Hanya meminta sebagian kecil sebagai honor non formal, uang lelah non prosedural, atau persenan tidak resmi.

Makanya tidak heran juga saat muncul banyak meme beliau lalu beliau kebakaran jenglot, ehh..jenggot pada hal beliau tidak punya jenggot lho... Sebab beliau merasa hal itu merupakan penghinaan bagi beliau. Masa iya, wakil rakyat yang sudah berusaha sekuat tenaga memperjuangkan hak rakyat hanya dibegitukan lewat meme, bagi beliau itu nggak level, seharusnya lebih dari meme, semacam dilempar kesarang lebah agar dikeroyok dan disengat para lebah hingga tampak lebih gemuk biar lebih berwibawa.

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon