Wednesday, November 22, 2017

Bosan, kan? Ya, itu, soal drama Papa Setnov yang entah sudah berapa jilidnya. Mulai dari rawat inap, hingga yang terbaru insiden penciuman tiang listrik.
Jika ditanya bagaimana anda semua menilai sosok Papa Setnov, pasti jawaban anda semua akan senada seperti koor sekolahan upacara hari Senin. Didoakan mati.

Maaf saya ketawa, ya.

Pak, bu, mbak, mas, dan para tante, buat saya Papa Setnov itu pahlawan. Lho, kok pahlawan? Baik, ini memang berbeda dari mainstream media massa yang sudah mendoktrin saudara-saudara, tapi izinkan saya untuk menjelaskan.

Pertama, Setya Novanto itu Papa yang lucu. Akting beliau, meme-meme beliau, sikapnya ketika dijadikan guyonan. Ngaku saja, anda semua pasti terhibur. Tapi, yang lebih penting lagi, Papa Setnov telah bersedia menjadi bahan hujatan anda semua!
Asyik, kan? Asyik. Wong ketika kita menghujat orang itu kita bisa lupa sejenak akan dosa sendiri je. Anda semua menyebut Papa koruptor beginilah, koruptor begitulah. Mengatakan begitu jahat dia itu karena makan yang bukan haknya.

E, e, e, lha yang menghujat itu apa tidak pernah terlambat alias korupsi waktu? Apa tidak pernah dengki alias korupsi hati? Tapi yaaa, saya paham anda mau jawab apa. Wong anda kan nggak korupsi sebanyak Papa.



Selanjutnya, Setya Novanto adalah Papa yang 'rela' berkorban. Hla kok bisa?! Wong makan duit rakyat kok rela berkorban.
Hop, sebentar mas. Jangan buru-buru lempar kursi. Tak jelaskan dulu.

Diakui atau tidak diakui, koruptor itu tidak hanya Papa saja. Lha nuwun sewu, sesuci apapun orang main politik pasti makan duit haram walau sedikit. Tapi, ya, itu bahasan yang berbeda.

Tapi saya tanya, ketika Papa dijadikan tahanan KPK kemarin, hati sampean lega tidak? Halah yang benar? Pasti lega!
Ada suntikan moral begitu sampean tahu, KPK berhasil. Kalau KPK berhasil, negara sukses memerangi korupsi.

Lak begitu to yang sampean percaya?


Nggak, nggak. Saya nggak bilang itu salah.  Sampean mau percaya itu monggo, tidak yo monggo. Pokok sampean seneng saja saya ikut seneng.


Yang penting, Papa Setnov pahlawanku
(Laksamana Faiz)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon