Friday, November 3, 2017



Salam seduluran, hai para pembaca, terlebih dahulu kami dari tim ekspedisi pura-pura akan meberikan sedikit cerita berupa wawasan kepariwisataan dan juga kuliner khas dari plat AE atau sebut saja daerah Ngawi, Magetan, Madiun, Ponorogo dan juga Pacitan.

Tulisan ini hanyalah sekedar cerita belaka, jika ada benarnya itu karena tulisan ini mengutip sumber secara benar, tak bisa dipercaya, tidak hanya menyuguhkan wacana atau cerita saja, melainkan pembaca akan diberikan petunjuk untuk mengakses cerita yang kami sajikan.

Kami para tim akan memberikan suguhan itu setiap hari atau setiap waktu yang kami punya, jadi butuh waktu juga untuk mencarinya atau membuatnya, meskipun mudah sih.

Perlu pembaca tahu bahwa tulisan ini akan mengikuti alur, bukan seperti pada umumnya info wisata yang hanya menyajikan dalam bentuk esai atau artikel, tetapi dalam bentuk cerita yang entah itu konyol atau malah apalah-apalah, yang jelas mungkin saja para pembaca paham dan tahu atau bahkan mengerti akan sebuah destinasi khas wilayah AE.

Kami akan mulai dari kota kekota, meski mungkin tak akan lengkap seperti keinginan pembaca, semoga saja bisa menghibur atau sekedar membaca kata-kata yang dirangkai menjadi sebuah cerita.

Jika pembaca kurang terima ataupun kurang percaya, silahkan saja inbox kami atau kirim melalui email yang sudah tersedia, atau bahkan memberikan usulan untuk sekedar reques destinasi yang lebih update, dengan senang hati pastinya kami menerimanya.

Dan akhirnya kami ucapkan selamat membaca, jangan lupa kopinya gaes.


Benteng Pendem 
Matahari sore turun dengan perlahan dan sangat pelan, suara gemericik aliran sungai bengawan menambah suasana yang menenangkan hati, tanpa polusi atau kebisingan kota Ngawi. Memang tempat ini ditengah kota, tapi cukup tenang karena dikelilingi oleh pepohonan pinis dan jati, suasana yang asri.

“Seperti yang kamu minta kemarin dinda, aku akan menceritakn tentang wisata religi ditengah kota perjuangan yang sekarang menjadi kota ramah ini, ceritanya tentang Benteng Pendem atau nama asli dari Benteng Van Den Bosch, masih berdiri kokoh seperti dahulu kala dibangun, meski banyak bangunan yang sudah usang atau kayu yang lapuk dimakan usia, wajar saja jika itu terjadi, karena sudah terlalu tua bangunan ini berdiri, ya tahun 1845 atau kita hitung sudah sekitar 172 tahun lamanya.sudah lama sekali bukan dinda? Mungkin juga ayah ibu kita belum dilahirkan”.

Hanya senyum tipis yang menyeka semilirnya angin sore, berhembus perlahan menyisir lembur ilalang dan dedaunan.

“Terletak di Desa Pelem, Kecamatan Ngawi kota, jika dari pasar besar ngawi hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja kearah timur, atau 1 kilo dari pusat kota ( Alun-alun ) menuju keutara. Benteng peninggalan kolonial belanda pada masa penjajahan melawan pangeran Diponegoro dari kubu Indonesia, memang sudah tua dan lama sekali bukan, berarti cerita itu sekitar satu abad yang lalu. Indonesia berjuang dan terus berjuang, jika sejarah mengatakan bahwa belanda menduduki Indonesia selama 350 tahun, sebenarnya aku  menyangsikan akan kebenarannya, benarkah demikian? Atau hanya perkiraan saja agar lebih dramatis bernuansa perjuangan, ya memang ngawi dijuluki kota perjuangan meski bukan kota pahlawan seperti Surabaya”.

Aku berhenti sejenak sembari membaringkan tubuh kererumputan hijau yang terhampar disisi timur benteng.

“Menurut cerita yang beredar dimasyarakat benteng Van Den Bosch ini memiliki 250 pasukan tentara belanda, 6 alat peledak meriam api dan 60 senjata kaveleri, pada era itu termasuk persenjataan yang lengkap bagi sebuah benteng pertahanan. Dan hasilnya, salah satu prajurit pangeran Diponegoro tertangkap, meski terkenal sakti, tetapi untuk hal strategi para pejuang masih kalah, atau bisa saja tertangkap karena kalah jumlah, ialah K.H. Muh. Nursalim. Konon ceritanya Nursalim kebal akan semua senjata milik belanda, hingga belanda hampir saja menyerah karena tak bisa menghabisinya, terbesitlah untuk mengubur Nursalim hidup-hidup di area pelataran benteng pendem. Tamatlah sudah riwayat pahlawan bangsa dari kota Ngawi itu.”

“Aku  sendiri tidak mengetahui pasti kapan belanda mundur dan meninggalkan benteng itu, sempat beberapa kali bertanya pada penjaga parkir atau petugas penjaga tetapi tak ada yang mengetahui pasti,dan kini, hanya jejak peninggalan dan cerita pembangunan romusanya saja”.

“Kini, benteng itu masih tetap berdiri kokoh seperti dahulu kala, dijaga oleh battalion Agicipi kota ngawi, tepat berada didepan makam pahlawan kota ngawi, terdapat pula lapas disisi samping benteng itu berada, jika suatu saat kesini kembali jangan lupa untuk mengenangnya, bukan hanya bersenang-senang saja, melainkan mengenang cerita dan sejarah kota ngawi berjuang melawan penjajah belanda”.

“Sudah sore matahari juga akan beristirahat dipusaranya,mari dinda kita berpamitan pulang, dan esok aka nada cerita lain dari kota ramah ini” Ucapku menutup cerita. Saat kami berjalan keluar area benteng, terpampang besar dipintu benteng bertuliskan selamat datang di wisata religi benteng pendem van den bosh kota ngawi. Salam seduluran SAE.

(Azka)


_____________
Kredit Gambar:
=> https://goo.gl/nqY4eX
=>   https://goo.gl/QCjjq9


Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon