Wednesday, November 1, 2017

Suatu kali, saya pernah membaca sebuah postingan di salah satu halaman facebook. Ceritanya kurang lebih demikian:

Seorang pengendara motor, tertangkap razia polisi lalu lintas dalam sebuah perjalanan, karena pengendara motor yang bersangkutan tidak memiliki Surat Izin Mengemudi. Sang polantaspun memberi pilihan, sidang atau titip. Tanpa pikir panjang, pengendara motor memilih untuk sidang. Namun, polantas yang bersangkutan mengatakan jika sidang maka motor dibawa polisi dengan kata lain disita. Dan pengendara motorpun memilih untuk titip, jika titip maka harus membayar seratus ribu rupiah di tempat. Tanpa pikir panjang pengendara motorpun menyerahkan seratus ribu rupiah untuk titip, tanpa slip, tanpa kwitansi, tanpa tanda terima apapun. Pengendara motor tak peduli. Sebab, seperti yang dikatakan pengendara dipostingan tadi, pengendara lebih memilih hemat waktu dari pada harus berdebat dengan oknum polisi ini, toh akhirnya Oknum Polisi ini akhirnya akan menggunakan pasal andalannya, melawan petugas. Demikian cerita di salah satu wall facebook tersebut dengan bahasa yang agak saya perhalus. Sebab cerita aslinya tidak pantas untuk ditulis disini karena bisa dikatakan lumayan kasar dan penuh umpatan kebinatangan.

Dari cerita tersebut, hampir terlihat jelas hal itu merupakan tindakan ilegal oknum polantas. Sebab, seharusnya jika memang itu tindakan resmi, setidaknya ada tanda terima uang yang diserahkan polisi yang bersangkutan ke pengendara sebagai tanda pengendara telah membayar denda dan menitipkan denda ke petugas. karena ada sebutan "titip" yang artinya, uang tersebut seharusnya disampaikan ke pihak-pihak bersangkutan yang resmi dan tidak diselewengkan.

Namun, karena rakyat jelata itu memang kaya, tidak semiskin oknum polisi semacam ini maka orang yang bersangkutan tidak mempedulikannya meskipun pada akhirnya rakyat jelata ini mengumpat di halaman facebook. "Tapi tak iklasne lur, masio neng atiku karo ndungo mugo-mugo njeblos wetenge sing nompo duit karom ngono kui" demikian lanjut si pengendara yang terkena razia tadi. Dari hal ini bisa dimaknai ternyata, masih banyak oknum polisi lalu lintas yang mencoba memanfaatkan kesempatan untuk memuaskan nafsu mental miskinnya dengan bermain pasal hukum lalu lintas yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat pengguna jalan pada umumnya. Jadi bisa dimaklumi jika di sosial media bertebaran caci maki kepada polantas yang terkadang memang kurang beradab.

Saya kira, kasus sedemikian tidak hanya satu atau dua kali terjadi di jalanan seluruh Indonesia. Sebab curhatan di sosial media semacam itu sangat banyak tidak hanya satu atau dua postingan bisa puluhan dalam satu hari dan itu masih terbatas pertemanan saya di facebook, belum lagi orang-orang diluar lingkaran pertemanan facebook saya.

Mental miskin para oknum petugas ini menjadikan citra aparat kepolisian yang sebenarnya bukan hanya polantas menjadi buruk. Saya yakin masih banyak polisi yang baik meskipun hanya ada di acara 86, tapi karena Oknum-oknum ini, masarakat secara umum menilai polisi itu tukang palak di jalanan. Meskipun ada juga polisi yang kerjanya hanya di kantor dan tidak pernah memalak dijalanan ala oknum dalam cerita diatas.

Sudah gitu aja, capek nulisnya.

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon