Monday, November 27, 2017



Di salah satu grup WA yang saya ikuti memang kumpulan orang-orang hebat kecuali saya sendiri, benar-benar saya sendiri yang tidak hebat.

Mereka, para anggota grup, banyak yang menjadi orang sukses. Ada yang menjadi kader partai hingga berhasil sampai di Senayan, aktifis sebuah LSM yang aktif di Jakarta, advokat, Legislatif tingkat kabupaten, broker proyek pemerintah dan PNS. Hanya saya yang murni pengangguran. Mereka banyak bercerita soal berkunjung kesana-kemari, dan "kesana-kemari" yang saya maksud benar-benar sebuah daerah yang dalam angan-angan saya, saya akan kesulitan untuk mengunjunginya, semisal Papua, Kalimantan dan lain sebagainya. Atau di kesempatan yang lain, mereka menceritakan si anu-si itu adalah kenalan akrab mereka dan si Anu-si Itu ini bukanlah orang sembarangan mereka adalah orang-orang ternama dan berpengaruh di daerah tertentu atau bahkan nasional.

Iri atau pengen?
Jelas, saya sangat iri dengan keadaan mereka yang bagi saya hal itu merupakan suatu hal yang sangat istimewa dan sulit terjangkau oleh manusia sekelas saya.

Ada masalah?
Tidak, tidak sama sekali kecuali perasaan iri saya tadi. Setidaknya saya malah bangga berkumpul satu grup dengan orang-orang sukses semacam itu. Saya bisa menikmati cerita orang-orang sukses itu, meskipun saya hanya sebatas membaca tapi setidaknya diwaktu yang lain, saya bisa bercerita ala orang sukses didepan orang yang senasib dengan saya. Tapi, ada sedikit masalah yang membuat saya agak merasa "clekit", dimana terkadang orang-orang sukses seperti mereka dengan percaya diri dan mudahnya mengklaim sesuatu yang bukan hasil karyanya. Misalnya seperti ini, ada suatu yang membanggakan, semacam prestasi, dari sebuah organisasi tempat dimana mereka pernah berproses.  Dengan sangat mudah mereka akan mengatakan "Ini lho program yang pernah saya canangkan sejak saya menjabat sebagai anu diorganisasi ini..." padahal semua orang juga tahu program yang dimaksud muncul jauh setelah mereka hengkang dari organisasi yang dimaksud.

Contoh lain, kader-kader organisasi secara kebetulan berhasil mendorong pihak berwajib untuk menyelesaikan sebuah kasus hukum atas seseorang yang dianggap "kuat" di pemerintahan, mereka dengan bangga dan tanpa rasa sungkan akan mengatakan "Aku lho, dulu, gak hanya seperti itu, aku pernah mengawal isu nganu hingga menjadi undang-undang yang diteken pemerintah", padahal semua orang juga tahu bahwa isu yang dimaksud muncul setelah mereka tidak lagi mungkin untuk peduli atas isu yang dimaksud dan isu yang dimaksud juga bukan wilayah kesibukan mereka.

Lalu, apa hubungannya dengan judul?
Sebenarnya tidak ada, namun saya akan berusaha memaksa untuk berhubungan dengan judul.

Jadi seperti ini, karena kelakuan mereka seperti yang saya sebutkan diatas berhasil membuat saya jengkel, sayapun curhat kepada orang lain yang lebih senior dari saya. Saya kirim pesan ke senior saya tersebut sambil saya sertakan screen shot chatingan orang-orang sukses ini dan saya beri caption "kulino to bocah iki, senengane ngaku-ngaku, marai jengkel".

Jawaban senior saya ini ternyata tidak membuat hati saya puas dan bahkan bisa dibilang lebih menjengkelkan, jawabnya demikian: "Yo ben to, pancen bocah kui hebat kok, nyapo-nyapo iso, ugo mesti luwih unggul timbang kancane. Wegah kalah". Tapi, disinilah letak kebijaksanaan senior saya yang ini, mengakui kehebatan orang lain dan memakluminya lebih hebat dari pada merasa hebat didepan sekumpulan orang-orang yang merasa hebat.(Juru Paido)



Kredit Gambar: https://goo.gl/eScRWm

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon