Sunday, November 12, 2017

Saya bingung akan menulis apa hari ini. Akan tetapi saya teringat ketika sedang melakukan 'ibadah ngopi' kemarin sore. Teman-teman saya tanpa sadar membincangkan tentang derajat konsumerisme masyarakat yang semakin hari semakin meningkat. Nah, saya pula merasakan hal demikian dimana pikiran selau terpenuhi oleh keinginan-keinginan terhadap produk keluaran baru melampaui batas kemampuan. Meskipun sebenarnya pikiran kita telah ter-setting di dalam otak, bahwa mengikuti 'trend' adalah sebuah kewajiban yang tidak diwajibkan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya intip tadi, konsumerisme merupakan gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya. Konsumerisme lebih kepada gaya hidup yang boros. Masyarakat secara spontan mengerubuti barang-barang keluaran baru walaupun sebenarnya barang yang sedang ia miliki belum kadaluarsa atau rusak. Misalnya ada beberapa keluaran barang elektronik yang baru, masyarakat berbondong-bondong membeli produk dengan alasan supaya lebih keren dari orang lain disekitarnya. 

Apakah fenomena ini terjadi secara alamiah, atau memang sudah ada pertarungan konsep di dalamnya?
Sebenarnya fenomena seperti itu merupakan sifat alamiah manusia yang selalu merasa tidak puas serta didukung oleh konstruksi mindset dari produsen. Pikiran-pikiran tersebut sudah dibuat supaya masyarakat cepat bosan dengan suatu barang dan mengambil yang baru, seringkali disebut dengan 'kadaluarsa di pikiran'. 

Maksudnya adalah sebenarnya barang yang dimiliki belum usang atau rusak, akan tetapi dengan beberapa pengeluaran baru membuat pikiran manusia untuk menggaet yang lebih limited. Produsen pun telah memiliki rahasia perusahaan yang berkaitan dengan hal ini. Mereka memang melakukan kesengajaan untuk membuat suatu barang memiliki batas umur. Sehingga barang tersebut akan tidak berfungsi berdasarkan waktu yang telah ditentukan dan melalui berbagai percobaan. Konsumen pun akan melakukan pembelian secara berkala. Sehingga produsen tidak akan kehilangan konsumennya.

Lagi-lagi perusahaan iklan sangat memberikan pengaruh besar dalam konteks ini. Nalar konsumerisme masyarakat semakin meningkat dikala iklan yang disajikan semakin memikat. Dampaknya adalah barang-barang yang tidak dibutuhkan ikut terbeli, dengan alasan diskon atau gengsi.

Jadi, konsumerisme sudah menjadi sifat dasar manusia. Akan tetapi derajatnya saat ini sangat sulit diatasi akibat ulah produsen yang semakin menggila. Peningkatan paham neo-liberalisme yaitu paham yang berkaitan dengan penguasaan pasar menjadi hasil dari produk kapitalisme. Kalau ngomongin neo-liberalisme, sudah sangat memegang prinsip ekonomi dimana modal sedikit-dikitnya dengan keuntungan yang sebesar-besarnya. Bodohnya masyarakat sangat menyukai permainan para produsen ini. Hebat..!!!









Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon