Sunday, November 26, 2017




Rekening, bagi orang-orang seperti saya memang bukanlah suatu hal yang begitu penting, terlebih rekening sebuah bank, sebab saya tidak pernah bertransaksi ala digitalis anti agama yang apapun didijitalkan termasuk uang, wong saya itu maksimal transaksi dijital itu hanya beli pulsa paket kuota internet satu giga untuk satu bulan itupun transaksinya dengan uang nyata. Selain itu tampaknya tidak pernah.

Saya tipe orang yang mudah khawatir jika uang dimasukkan rekening bank akan terjadi riba, riba itu dosa, lho. Jadi saya tidak memasukkan uang ke bank karena khawatir terlibat dalam lingkaran setan keribaan yang tidak diperbolehkan oleh agama dan kepercayaan saya. Saya lebih memilih menyimpan uang saya dalam dompet atau apapun yang memungkinkan untuk dijadikan tempat menyimpan uang tunai. Belum lagi persoalan lain yang bagi saya tidak masuk akal, dimana uang yang seharusnya berbentuk logam atau kertas dan bahkan jika mengikuti anjuran ajaran agama saya yang disebut sunnah, uang seharusnya berupa dinar atau dirham, lalu tiba-tiba uang hanya berbentuk angka dan sandi-sandi yang tidak berwujud, ini buruk karena dalam hukum jual beli yang diajarkan agama kami berdasarkan kata pak ustad, jual beli bisa dikatakan sah apabila dilakukan dengan menggunakan alat tukar yang sah, pak ustad mengartikanya uang, lha kalau uang saya didijitalkan dan berubah menjadi angka-angka dijital berarti jual beli saya tidak sah menurut agama dan itu berdosa. Iya 'kan?

Itu masih sebatas hukum agama yang saya anut, belum lagi persoalan lainnya yang berhubungan dengan dunia teknologi jaman now, para hacker juga mengintai uang saya yang ada di bank. Sewaktu-waktu para hacker ini bisa mengambil uang dengan cara mebobol sistem komputer bank dan mengambil uang saya tanpa sepengetahuan saya dan bisa pula hasil pembobolan uang saya ini dimanfaatkan untuk menyumbang pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang memusuhi agama saya. Dan ini jelas untuk menghancurkan agama saya, semakin banyak orang yang menabung di bank dan mendijitalkan uangnya, maka peluang mereka mendapatkan uang untuk modal menghancurkan agama saya semakin banyak. Benar 'kan...?

Ngomong-ngomong soal kelompok agama tertentu yang memusuhi agama saya, cara mereka semakin canggih untuk menghancurkan agama saya salah satunya itu tadi, dengan mendijitalkan uang. Polanya demikian: pemeluk agama yang sama dengan saya menabungkan semua uang tunai ke bank-bank mereka. Kemudian mereka mengambil uang tunai yang telah kami tabungkan ke bank mereka untuk biaya menghancurkan agama kami, dan para nasabah yang mayoritas pemeluk agama kami dibohongi dengan angka-angka dijital yang kata mereka sebagai pengganti uang tunai, padahal bisa saja hal itu hanya trik mereka agar uang tunai pemeluk agama kami ditabung semua untuk biaya memerangi agama kami, dan kaum penganut agama kami tidak bisa melawan mereka karena sebagian besar uangnya telah ditabung di bank-bank mereka, begitu 'kan?. Bukan hanya itu, mereka juga tahu tentang ajaran agama kami yang melarang adanya riba, dan riba adalah dosa maka para pembenci agama kami sengaja menjerumuskan kami kepada neraka dengan bujukan untuk melakukan tindakan riba, agar surga kami tidak ada yang menempati, tidak laku dan sepi. Agar kami semua masuk neraka dan tersiksa disana.

Tapi, suatu kali ada sebuah tawaran pekerjaan yang mengharuskan saya untuk bertransaksi melalui uang yang hanya berupa angka-angka ini. Dan pekerjaan ini bagi saya lumayan, lumayan menggiurkan dalam hal honor. Namun karena saya tidak mempunyai rekening, dan berusaha untuk tetap menjaga diri agar tidak masuk lingkaran setan keribaan dan alasan-alasan lain yang saya tulisan diatas maka saya tetap tidak membuka rekening di bank. Maka hal demikian akhirnya merepotkan saya, saya harus mencari teman yang rela meminjamkan rekeningnya untuk saya agar saya bisa bertransaksi melalui bank, biarkan teman saya saja yang berdosa atas keribaan-keribaannya karena dialah yang memiliki rekeningnya dan saya tetap tidak ikut berkontribusi atas keribaan-keribaan itu dengan tetap tidak membuka rekening di bank, meskipun sedikit repot tidak masalah yang penting saya tidak ikut berkontribusi dalam merusak agama saya dengan cara mebuka rekening di bank.

Namun, sebenarnya bukan itu. Tulisan diatas hanya alasan saya agar bisa dianggap pantas curhat disini. Alasan sebenarnya kenapa sampai sekarang saya tidak punya rekening bank adalah karena tidak ada yang saya rekeningkan di bank, kok merekeningkan ke bank lha wong rekening listrik saja saya masih nebeng.(*Juru Paido*)


Kredit gambar: https://goo.gl/5j84eL

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon