Monday, November 13, 2017




Nalar merupakan alat paling mendasar bagi manusia, sebagai puncak dari kemanusiaan itu sendiri. Manusia masih tetap bertahan sampai hari ini juga karena nalarnya terus beradaptasi dengan kondisi yang sedang berlangsung.segala perubahan dari kondisi semesta juga karena nalar manusia yang terus mencoba mewujudkan apapun yang terbetik dari nalarnya.

Sinergitas alam dan nalar ini yang memicu segenap gerak besar maupun kecil di semesta ini. Semakin kuat sinergi yang terjadi antara nalar manusia dan dinamika alam maka manusia itu sendiri semakin memiliki andil besar dalam merubah dunia. Bahkan seorang manusia mampu menjadi pengaruh yang begitu kuat atas alam karena manusia tersebut bisa bersinergi dan bahkan mampu berkomunikasi dengan kesemestaan. Kemampuan bersinergi ini juga berawal dari nalar. Karena tanpa nalar manusia hanya seonggok daging yang tak memiliki apapun dan tak pantas menyandang gelar manusia.

Nama manusia hanya sebagai gelar belaka dan tidak lebih. Gelar manusia ini disematkan karena kemampuannya menjadi bagian dari semesta dan mampu selaras dan menyelaraskan diri dengan ruang dan waktu dimana dia mengada. Ketika manusia hanya memiliki kemampuan untuk sekedar mengeruk dan menghabiskan belaka tanpa mampu membangun keseimbangan maka dia masih hidup dalam ruang naluri dan belum pernah samasekali masuk pada ruang nalar.

Ruang nalar adalah ruang dimana manusia mampu menyusun dan mempertimbangkan segala apapun yang seharusnya. Kemampuan secara mendasar sebenarnya telah ada dan tertanam dalam diri, akan tetapi ketika dia mulai menapaki garis mewujud sebagai rupa manusia, dia membutuhkan penegasan kembali melaui orang tua dan lingkungan dimana dia hadir. Disanalah segala sesuatunya dimulai. Akan tetapi belum menjadi penentuan akhir, sebab dinamika kehidupan bisa saja membentuk manusia jauh dari lingkungan dimana dia dibesarkan. Dinamika yang penuh ketidakpastian inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain.

Pada dasarnya manusia adalah makluk yang penuh keraguan sekaligus hanya memiliki kontekstualitas dan bukan makhluk yang normatif. Kenapa keraguan karena dengan keraguannya tersebut manusia mengada (merujuk pada Rene Descartes; cogito ergo sum), kemeng”ada”annya ini merupakan sebuah proses yang terus menerus dan tidak akan pernah berhenti selama dunia ini masih di huni oleh manusia. Meskipun pada dasarnya dia secara fisik telah mati namun prosesnya masih terus berlanjut (baca: bagi mereka yang memiliki karya yang selalu diingat oleh generasi selanjutnya dan terus diajarkan kepada generasi setelahnya, dan merupakan bentuk dari amal jariyah yang tak pernah berhenti).

Keberlanjutan ini karena sifat manusia yang selalu ingin (tahu) dan ingin terus menerus (dan pengecualian bagi mereka yang telah merasa cukup dengan pengetahuan yang pernah dimiliki(dan lebih banyak telah dilupakan). Dan ini yang menjadikan manusia menjadi historis (bukan normatif). Dinamika kemanusiawian menjadikannya makhluk abadi (selama belum kiamat).

Dengan demikian nalar manusia akan menolak apapun yang sifatnya terputus dan tak memiliki keterkaitan dengan apapun, sebab secara mendasar pikiran manusia juga berproses untuk menemukan jawaban setiap pertanyaan yang hadir di pikirannya, logika manusia menolak segala sesuatu yang datang dengan cara mak bedunduk. Jika sebuah kejadian terjadi dengan cara mak bedunduk maka kesadarannya akan mengalami keterkejutan, dan berangkat dari keterkejutannya inilah kemudian logika kesadarannya akan memunculkan pertanyaan mengenai sesuatu yang mak bedunduk tadi. Nalarnya akan terus bertanya selama belum menemukan jawabannya, jika saat ini belum menemukan jawabannya maka memori akan menjarkan untuk menyimpan “dendam” dan mempertanyakannya kembali di lain waktu jika ingat dan pada yang kondisi tepat.

Kemampuan nalar untuk menuntun manusia tetap mengada dan memposisikan manusia pada posisinya sebagai manusia membutuhkan sebuah perawatan yang tidak mudah. Butuh disiplin yang cukup kuat untuk terus menjaganya berada pada ruang kemanusiawiannya. dan yang menjaga nalar tak lain dan tak bukan adalah diri. Sedangkan diri juga tersarikan oleh nalar, jadi seluruh bagian dari manusia sebenarnya tak ada satupun yang paling dominan, secara keseluruhan memiliki peranannya masing-masing pada posisinya dan proporsinya. Jika salah satu dari diri manusia menjadi dominan dan terlalu berkuasa maka cepat atau lambat maka akan terjadi anomali/penyimpangan yang mana efeknya tidak hanya sekedar mental, namun juga bisa berefek pada fisik yang paling parah. Manusia yang mampu menjaga nalar pada kondisinya memiliki satu cirikhas yang tidak bisa hanya sebuah akting atau polesan (macak sadar), yaitu mampu merdeka dari segala apapun bahkan jika mungkin dari tuhan sekalipun. Ciri dari kemerdekaan mereka adalah saat mereka mejalani kehidupan tiada lain kecuali selalu menarik untuk di tonton, sebab setiap langkah adalah kenikmatan yang tidak boleh dilewatkan sedikitpun bagi mereka. Kehidupan yang dijalani seakan sebuah permainan yang tidak boleh dilewatkan langkah per langkahnya, karena setiap langkah memiliki makna yang tidak bisa di ulang pada langkah selanjutnya, meski berada di langkah yang sama mereka merasa selalu berbeda pada tiap-tiapnya. Kemerdekaan mereka tidak bisa dibeli dengan apapun di muka bumi ini sebab seakan segala sesuatu di muka bumi ini tak ada satupun yang mempu memberikan kenikmatan kecuali sebuah kemerdekaan yang bisa dinikmati.

Manusia yang memiliki kemampuan menjaga nalar pada posisi kesadaran penuh dan seutuhnya pada  jaman ini prosentasenya semakin menurun drastis, diantara sepuluh orang mungkin yang masih berada pada kondisi bernalar merdeka paling tidak lebih dari sat atau dua orang. Lebih banyak dari manusia secara umum kesadaran mereka telah tergadaikan pada sesuatu yang tidak disadarinya telah di pilih. Mungkin bedasarkan alasan kebutuhan, keinginan, dorongan orang lain, sistem, dan amaupun nama-nama lain dari sebuah sistem. Lebih banyak zombie yang terlihat seperti manusia normal daripada manusia seutuhnya. Banyak lalulalang manusia dengan berbagai macam gelar keilmuan yang bergengsi maupun gelar yang diperoleh karena kiprahnya di sekawanan manusia (kiprah sosial) yang tidak lebih kehadiran mereka hanya bertujuan untuk memenuhi hasrat perut dan bawah perut. Motivasi untuk meraih itu semua bukan karena menikmati dan mengisi kemerdekaan kesadaran mereka sebagai manusia, motivasi mereka adalah ketakutan, takut tidak bisa makan, takut dicemooh, takut direndahkan, takut takut dan takut. Karena ketakutan inilah kemudian menciptakan alam bawah sadarnya bergiat untuk meraih posisi tertentu agar tidak menemui ketakutan yang dibayangkan. Namun sayangnya karena berawal dari ketakutan mereka pada capaiannya juga masih terjebak pada ketakutan yang alin, yaitu tuntutan yang harus dipenuhi oleh posisi yabg sedang di alami.

Teror ketakutan ini merupakan penyakit klasik manusia, sebab semenjak ada sekawanan manusia sudah terbentuk semacam kesepakatan untuk membentuk kelas. Semangat membentuk kelas ini secara primitif dengan penaklukan dan teror secara fisik berupa perang, sedangkan secara moderen adalah dengan menanamkan nilai-nilai yang dianggap berkelas dan bermartabat. Dengan membangun asumsi ini telah menggiring manusia pada posisi untuk selalu mengikuti aturan main yang telah diciptakan.

Dengan demikian kekuasaan kesadaran sebagai manusia telah diserahkan pada aturan main yang diciptakan. Sehingga manusia yang tidak mampu menjaga kesadarannya sendiri dan menyerahkan kesadarannya pada sebuah aturan tertentu dia tidak jauh beda dengan sekumpulan manusia yang “terlihat” sadar meski pada hakekatnya telah di penjara oleh sesuatu yang tidak disadarinya atau lebih tepatnya ia terima semenjak dia berada dalam kelas sekolah.

Berangkat dari sekolah inilah teror ketakutan ditanamkan. Pada saat TK seorang anak akan ditanya apa cita-citanya, maka mereka diharapkan untuk bercita-cita menjadi sesuatu yang bergengsi. Tak ada satupun yang mengajarkan mereka untuk menjadi manusia seutuhnya yang merdeka. Sebab jika salah satu dari mereka bercita-cita menjadi sesuatu yang dianggap buruk maka mereka akan di cemooh atau di ejek, minimal akan ditegur dengan pertanyaan “ apakah tidak ada yang lain yang lebih baik?”. Dari yang paling sederhana ini teror sudah ditanamkan.[ell]


Kredit Gambar: https://goo.gl/Zmxnei

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon