Wednesday, October 18, 2017




Tidak ada, tidak ada yang ingin saya tulis karena memang tak ada yang saya pikirkan untuk ditulis, kata orang kondisi ini artinya tidak ada inspirasi untuk menulis. Namun, karena hari ini saya ingin memposting sesuatu maka saya menulis ini.

Awalnya saya ingin menulis sesuatu yang ilmiah pokoknya sesuatu yang sangat ilmiah tingkat sarjana S5, padahal saya tak pernah kuliah. Tapi saya khawatir tulisan saya yang ilmiah banget ini nantinya tidak dimengerti oleh orang yang membacanya maka saya urungkan niat untuk menulis yang ilmiah tadi. Menulis ilmiah itu beresiko, beresiko disalahkan orang-orang akademis, karena tulisan ilmiah itu harus ada referensinya dan referensi tulisan ilmiah itu tidak boleh kalau hanya satu buku, minimal 3 buku. Kalau referensinya cuma 1 buku, para akademisi bilang itu plagiasi, kopi paste. Kayak makalahnya anak-anak mahasiswa yang diajar para dosen yang sibuk mengejar formalitas itu. Dan, ilmiah itu penuh dengan keterbatasan-keterbatasan, belum lagi ada beberapa golongan akademisi yang berusaha memonopoli wilayah ilmiah ini, mereka bilang tulisan ilmiah itu ditulis orang-orang akademis kalau tidak, tidak bisa dikatakan ilmiah.

Saya kemudian berkeinginan nulis yang nyastra-nyastra gitu, semacam cerpen atau puisi. Sudah beberapa paragraf saya tulis. Namun, ketika saya baca ulang saya khawatir lagi. Saya khawatir tulisan saya dianggap sastra sampah, cerpen anak-anak, cerita picisan atau istilah-istilah lain yang membuat saya minder dan hati saya ciut. Nyastra itu sulit, sebagian golongan tukang sastra mengatakan sastra itu harus ndakik-ndakik kaya cerpennya Gibran yang susah dimengerti itu, penuh penghayatan dengan hati yang paling dalam, tidak boleh asal nulis.

Lalu, terbesit keinginan nulis semacam artikel. Artikel tentang air hujan yang menetes didepan rumah, mengalir bersama sampah diatas genting yang sudah sekian bulan tidak dibersihkan. Sudah saya tulis. Namun, saya khawatir lagi. Saya khawatir setelah di posting atau diterbitkan di blog akan dicela, itu tulisan cerita keluarga, bukan artikel. Artikel harus memenuhi sarat tertentu yang telah ditetapkan bersama. Entah siapa yang menetapkan saya juga tidak tahu.

Saya urungkan lagi niat menulis artikel. Jatuhlah keputusan saya untuk menulis berita. Yang kelihatan ringkas, cukup 4-5 paragraf perparagraf 4-5 baris. Tapi saya bingung, berita apa yang akan saya tulis. Akhirnya tidak jadi nulis berita. Menulis berita itu harus memenuhi sarat-sarat berita. Setidaknya 5W 1H. Kalau tidak, maka tidak akan menjadi berita malah jadi isu.

Mau nulis kok ribet amat sih. Akhirnya saya tidak jadi menulis apa-apa....

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon