Monday, October 16, 2017



Sistematika pada dasarnya hanya sebuah alat(tools) untuk mempermudah. Terkadang alat menjadi penting namun alat bukanlah tujuan untuk mencapai tujuan tertentu hanya sebagai jalan untuk meraih. Pada posisinya alat sama pentingnya dengan tujuan karena tanpa alat tujuan mungkin sulit untuk dicapai. Sedangkan untuk mencapai satu tujuan tidak harus menggunakan satu alat saja, melainkan bayak macam alat untuk mencapai satu tujuan. Ada alat yang penting dan alat pendukung. Alat yang penting akan menjedi penentu, akantetapi tidak selamanya alat yang penting ini menentukan keberhasilan. Terkadang bisajadi alat hanya akan menjadi penghalang untuk mencapai tujuan semula dan hanya berkutat pada alat dan tertipu akan pentingya alat itu sendiri.

Ketertipuan ini menjadi wabah dan merupakan hal yang menjadi persoalan tersendiri bagi manusia moderen. Nalarnya bertujuan untuk mempermudah, namun pada level selanjutnya kecerdasan mempengaruhi pola pikir mereka, sehingga sebenarnya alat yang seharusnya mempermudah ternyata memakan banyak biaya untuk memeliharanya bahkan terkadang lebih mahal dari tujuan yang sebenarnya. Selain level kecerdasan kemampuan para pemasar juga sangat menentukan keributan para pengguna alat. Satu alat dipasarkan maka di lain waktu mereka akan menawarkan berbagai macam alat pendukung tambahan untuk mempermudah dan memaksimalkan alat tersebut. Dengan demikian seperti lingkaran setan, terus dan terus menjadi konsumen yang tak memiliki kekuasan sama sekali untuk memutus lingkarannya kecuali keberanian untu menahan diri agar tidak terjebak pada “kebutuhan yang tidak dibutuhkan”.

iklan pada awalnya hanya sebuah alat untuk memasarkan atau memberikan pengetahuan pada calon konsumen atas sebuah produk yang sebenarnya, namun pada perkembangan selanjutnya menjadi sebuah media provokasi untuk menjual sesuatu yang sebenarnya hanya kebutuhan sekunder dan seandainya barang tersebut tidak ada sebenarnya tidak berpengaruh banyak pada kehidupan manusia, namun ketika iklan tersebut terus dicekokkan pada konsumen maka seakan-akan konsumen butuh dengan barang tersebut dan harus membelinya karena “merasa butuh”, padahal pada hakekatnya dia tidakbutuh samasekali.
[next]

Sebagai alat maka sitematika merupakan hal mendasar yang bebas dipilih oleh seseorang untuk digunakan. Bahkan seseorang dimerdekakan menciptakan sendiri alat yang dibutuhkan dan kalau mungkin tidak tergantung pada cara orang lain, cara(baca:teori) orang lain hanya sebagai pertimbangan belaka. Jika ada orang lain yang memaksakan teorinya untuk digunakan oleh orang lain dengan cara apapun maka sebenarnya di telah melewati batas orang lain utnuk menentukan pilihannya. Apapun posisi seseorang jika memaksakan sebuah teori untuk diterapkan dengan tanpa alasan ilmiah maka sebenarnya dia telah membunuh karakter originalitas orang lain. Padahal karakter originalitas seseorang tidak boleh dibunuh karena merupakan hak asasi bedasarkan proses yang dilalui, bukan bentukan orang lain, yang membentuk adalah sosial dimana dia berada dan merupakan hasil kesimpulan sendiri atas realitas yang dialami, dan sebuah cara unik untuk mereson kondisi dan konteks yang sedang berlangsung. Ini alamiah dan tidak bisa di cetak, dan yang paling munkin adalah dibentuk, sebab dalam diri manusia sudah ada dasar yang membentuk jiwa manusia tersebut. Apabila manusia bisa di cetak maka niscaya manusia dengan manusia lain tak ada bedanya, tak ada originalitas, dan ciri yang menjadi penanda bahwasannya manusia itu origin dan memiliki kepribadian. Kebebasan yang dipilih seseorang untuk menentukan pa yang seharusnya ini lebih sering dibatasi oleh lembaga dimana dia berada, bahkan cenderung dicegah, padahal setiap segala sesuatu di muka bumi ini tidak ada satupun yang tidak saling terkait, segala sesuatunya saling terhubung secara langsung maupun tidak langsung, bilamana ada yang mengatakan bahwa satu pengetahuan tidak terkait dengan pengetahuan yang lain maka sebenarnya dia masik terkurung dalam konsep parsialitas pengetahuan dan kungkungan ilmiah yang tujuannya untuk memudahakan malah menjadi penghalang akan ketersambungan pemikiran dan universalitas pengetahuan. Manusia jenis ini masih melihat kehidupan sebagai sains bukan pengetahuan/Knowledge.

Dan pengetahuan adalah hal yang aling mendasar dan yang paling di butuhkan dam menjalani proses kehidupan ini. Dengan pengetahuan manusia mampu menunggangi hidup sebagai hidup bukan sebagai tunggangan hidup. Dengan demikian manusia bukanlah sekelompok organisme hidup yang tidak hanya “hidup” belaka namun yang hidup dan yang mengendalikan hidup.

Namun dalam tersisi kehidupan moderen manusia memiliki problem yang sangat komplek. Apalagi mereka yang lahir dari orang-orang yang terdidik secara “mapan”. Mereka dari kecil diajarkan untuk melihat hidup sebagai sebuah bagian-bagian, bukan sebagai sesuatu yang utuh dan harus dimengerti dengan proses. Mereka “dilahirkan” dengan konsep “science” yang melihat kehidupan sebagai sebuah hal yang terpisah-pisah dan harus memilih satu hal yang dianggap paling penting, padahal dalam kehidupan ini segala sesuatunya penting dan tidak boleh hanya dipentingkan, segala sesuatunya tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lain segala sesuatunya utuh. Jika salah satunya dihilangkan maka niscaya yang lain juga tidakbisa berdiri sepenuhnya. Jadi nilai yang tersematkan bernama baik dan buruk jika ditelisik hanya sebuah pemisahan untuk mengenali bukan untuk dibenci. Namun jika alasan ini digunakan sebagai sebuah apologi maka sebuah kerusakan akan terjadi dan pola “stoicism” jaman Yunani kuno akan terulang.
[next]
Sistematika sebagai sebuah teori pada dasarnya hanya sebuah alat yang penting untuk menyelesaikan sebuah tujuan, namun teori tidak terikat pada satu ketentuan tertentu yang pakem, karena teori itu diciptakan bukan di paksakan pada sebuah jaringan nalar. Jika dipaksakan maka sebenarnya sudah melanggar hukum semesta yang bernama kemerdekaan untuk menentukan dan memilih serta meyakini. Dengan demikian teori adalah sebuah kreativitas dimana hal ini sebenarnya adalah origin lahir dari setiap kepala manusia untuk menyelesaikan problem kehidupannya, tidak hanya dimonopoli oleh sarjana belaka. Jika seorang sarjana sudah tidak mampu lagi mendefinisikan apa yang ada dalam penalarannya maka dia masih jauh dari label kesarjanaan, dan bisa jadi label itu hanya slogan yang jika pada saatnya nanti akan kuga di sobek atau lenyap oleh masa. Sekolah formal atau belajar di lembaga pendidikan formal sebenarnya hanya salahsatu diri sekian banyak bentuk pendidikan untuk mendidik manusia untuk berfikir runtut, sedangkan sistematika dan pola ditentukan oleh person yang memiliki pemikiran itu sendiri. Jadi pendidikan adalah wahana untuk mengajari manusia utnuk merdeka menemukan, membangun, membentuk dirinya sesuai dengan keinginannya namun tidak merusak dan mengganggu kemerdekaan orang lain. Bahkan jika mungkin mengajarkan manusia untuk memahami bahwa manusia itu universal dan memiliki potensi untuk menemukan keutuhan sebagai kehidupan dan tidak menyalahkan satu terhadap yang lain dalam koridor kemanusiaan dan etika kemanusiawian utuh, bukan pemaksaan atas satu kehendak, yang dimulai dari membangun kesadaran manusiawi. Yaitu meminimalisir keangkuhan dan arogansi dalam kerangka apapun, apalagi kerangka agama.***

(Avatar Huda)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon