Tuesday, October 3, 2017



"Pilihlah jawaban yang benar".

Demikian kata pembuka dalam lembar soal dalam ujian-ujian yang pernah dialami hampir semua siswa dari tingkat SD hingga SMA, mungkin juga sampai pada tingkat perguruan tinggi. Hampir semu pengisi jawaban akan memilih jawaban yang dianggap benar untuk mendapat nilai yang bagus.

Dan, siapa yang tidak suka ketika dianggap benar...? Dan siapa pula yang tidak kecewa ketika dianggap salah?. Hampir semua orang akan merasa berbangga ketika dianggap benar dan kecewa saat dianggap salah.

Lalu, apa salahnya sebuah kesalahan?

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan kesalahan. Kesalah adalah bagian dari adanya kebenaran. Tak ada kebenaran tanpa adanya kesalahan.

Namun kenapa sebuah kesalahan selalu dihindari? Tidak ada orang yang sengaja memilih pilihan yang salah?bahkan kesalahan selalu menjadi kambing hitam saat ada sesuatu yang tidak sesuai harapan?

Saya tidak tahu pasti. Bisa jadi hal ini karena persepsi yang sekian lama telah dibentuk bahwa kesalahan adalah sesuatu yang menyesatkan, menyusahkan dan tidak baik. Meskipun kesalahan tidak selamanya demikian.

Banyak kebaikan yang timbul karena kesalahan-kesalahan dimasa lalu. Banyak kebenaran-kebenaran dimasa sekarang yang dulunya adalah kesalahan. Agama dan kepercayaan misalnya, karena ada ketidaksesuaian agama dan kepercayaan terdahulu dengan zaman atau karena ada sebab lain agama terdahulu harus diganti dengan agama yang baru.

Agama terdahulu yang dianggap benar akan menjadi salah dengan adanya agama baru. Masyarakat juga akan menganggap agama baru ini sebuah kesalahan, namun karena sudah terbiasa dengan kesalahan yang ada pada agama baru ini maka orang-orang menjadi tak peduli bahkan meyakinkan diri agama atau kepercayaan baru ini sebuah kebenaran.


Kesimpulannya, bisa jadi dan sangat mungkin sekali kebenaran adalah suara massa, seperti kata pepatah "Vox Populi, Vox Dei".


Jadi, tidak ada salahnya jika mencoba untuk memilh yang salah. Karena orang yang memilih sebuah kesalahan dengan sengaja berarti dia sudah sangat tahu mana yang benar mana yang salah. Tapi, jangan lupa untuk tetap bertanggungjawab atas sebuah pilihan sebagaimana seharusnya kesalahan itu menghakimi.(***)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon