Friday, October 6, 2017




Pikiran manusia selalu me-ruang dan me-waktu, Dinamis dan terus berubah seiring pergeseran dua elemen hidup. Di satu ruang manusia berfikir tentang kebutuhan yang harus dipenuhi untuk esok hari, beberapa saat berpindah ke warung kopi dia sudah merumpi tentang sesuatu dan selanjutnya akan merembet ke hal-hal yang terkadang tidak pantas untuk dibicarakan. Demikianlah pikiran manusia tidak akan pernah terlepas dari ruang dan waktunya. Hanya segelintir orang yang mampu menjaga keintiman berfikirnya pada satu jalur yang pasti. Dan orang-orang dengan tipe seperti inilah yang di kemudian hari akan dijuluki dengan orang idealis. Namun sebenarnya tidak demikian, mereka yang mampu menjaga pemikirannya inilah yang menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah pendidikan, yaitu mereka yang mempu berada pada jalur memilih untuk menjadi dan berada pada pilihannya sendiri dan tidak berada pada arus besar gelombang, berada pada ruang kehidupan yang sesungguhnya yaitu ruang hidupnya sendiri, bukan ruang hidup orang lain.

Pada masa kecilnya seorang manusia dibesarkan dan didik dalam lingkaran kecil keluarganya, diajarkan untuk berimajinasi dan merancang kehidupannya dimasa mendatang, “akan menjadi apa kelak”. Terus dihembuskan dan selalu sesuatu yang sangat sederhana. Belajar berjalan sambil belajar menetapkan lidah unutk mampu bicara. Di waktu yang lain diajarkan untuk mengenal segala sesuatu yang ada di sekitarnya terus mengenali. Tentang emosi, tingkah laku, bersikap dan seterusnya. Tentang bagaimana hidup yang paling sederhana. Pola yang paling sederhana dalam hidup. Menjalin komunikasi dengan manusia yang paling dekat dalam kehidupan manusia.

Pada fase selanjutnya ketika tradisi mengisi waktu luang dengan berkelompok di satu tempat yang dinamakan sekolah, seorang manusia diajarkan untuk meng-anomali-kan diri berimajinasi lebih untuk menjadi orang yang lebih “baik” bercita-cita yang “dianggap” lebih “mapan”. Menjadi sesuatu yang sepenuhnya belum dikenal secara detail oleh seorang anak. Ditelinganya di jejali berbagai macam hal yang terkadang jauh dari lingkungan dimana dia berada, berdasarkan “kurikulum” import (seperti iklan kondom) yang dianggap lebih baik dan lebih mapan. Sedikit demisedikit mulai di cabut dari akar dimana dia tumbuh. Pada fase awal pendidikan ini manusia dikenalkan pada olah pikir untuk meninggalkan tanah dimana dia berpijak dengan berbagai macam iming-iming keindahan. Gambaran-gambaran tentang sesuatu yang sepenuhnya tidak terlalu dikenal.

Saat umur mulai bertambah dan menginjak remaja dewasa mereka yang masih berada pada tuntutan belajar masih memenuhi waktu kosongnya dengan belajar dan wajib mengikuti prosesi “menonton orang yang sedang bekerja” dalam ruang yang berjajar rapi seperti sederet benih jagung diladang, rapi dari kanan kekiri maupun dari depan kebelakang. Mereka diajarai bagaimana berfikir dan menjadi pekerja yang rajin dan selalu menuruti prosedur yang ada dan teratur mengikuti program dari program. Layaknya sebuah mikrochip yang harus meladeni deret biner yang ditanamkan, butuh waktu yang cukup lumayan lama juga untuk mencetak sesosok manusia yang teratur dan “beradab” seperti yang diangankan, Palingtidak butuh waktu minimal 36 bulan. Sebelum mereka masuk pada lembaga yang disebut perguruan tinggi ini kepala mereka telah ter-install “bootloader” yang namanya harapan tentang kesusksesan standar pemikiran “inlander”, Yanag mapan adalah mereka yang memiliki sertifikat yang disebut “ijasah” sebuah jurusan tertentu dan masuk dalan sebuah lembaga yang bernama lembaga negara dan mereka bergelar PNS. Dengan anggapan mereka akan mendapatkan sisa upah ketika mereka telah puna tugas dan menikmatinya pada saat nati setelah menjadi Veteran.

Dengan modal pemikiran yang demikian inilah kemudian berlomba-lomba untuk menempuh pendidikan tinggi agar sukses seperti tetangganya dikampung yang tiap pagi rapi berangkat kerja dengan fasilitas yang tidak terlalu sulit didapatkan karena hanya berbekal selembar surat sudah mungkin dan cukup untuk mendapatkan dana segar untuk meraih mimpi. Tanpa menggadaikan sertipikat tanah. Dan kondisi ini semakin subur ketika orang tua mereka juga selalu mendengungkan hal yang sama karena tetua mereka juga termakan isu yang dihembuskan oleh para pembantu kumpeni. Demikianlah mereka masuk dalam lingkaran akademik dengan modal pengetahuan bahwasannya ijasah sarjana bisa digadaikan untuk menjadi “djongos” yang terhormat.

Akan tetapi pada saat menempuh kursus kepegawaian setingkat S1 berbagai macam jurusan ini, banyak badai yang menerpa salah satunya adalah badai semacam perkumpulan “mahasiswa yang junga memiliki media periklanan yang cukup menarik pula. Yaitu mengusung isu-isu kerakyatan yang “hangat” dan seakan pantas untuk diperjuangkan. Tidak sedikit yang terperangkap dalam perkumpulan ini dan mengikuti arus yang ada. Berteriak-teriak seakan memahami betul persoalan yang terjadi dilingkungan “kampung” atau pedesaan secara umum. Corong mereka pada masa-masa tertentu memang cukup nyaring untuk didengar. Namun sesuai dengan pergeseran kualitas, suara mereka meski keras namun tidak menunjukkan ketajamannya, Bahkan cenderung tumpul, karena pada prakteknya mereka tidak mengerti betul kondisi yang sebenarnya terjadi. Hanya kata orang, mereka berwacana.

Pada masa-masa inilah seakan mereka merasa menjadi pahlawan yang sangat bersemangat sekali. Mereka lupa bahwa mereka pergi ke lembaga “kursus” dengan bermodalkan keringat perburuhan yang nyata. Sampai pada titik tertentu mereka sangat menarik dan pantas untuk dihargai, namun pada batas waktu tertentu. Paling panjang mereka meneriakkan pembelaannya terhadap rakyat kurang dari 1,5 tahun. Setelah itu mereka akan di ingatkan kembali pada misi yang diemban yaitu menjadi “pegawai” yang tertib, maka dengan berat hati mereka akan meninggalkan angan Autopis mereka dan kembali pada bangku dimana dia memulai harinya dan menjadi tertib untuk memenuhi prosedur “kursusnya”. Mendapatkan IPK yang tinggi demi kelulusan yang “cum laude” sehingga memiliki nilai tawar di lembaga VOC modern. Mungkin sambil menepok jidat mereka berkata “ya…. Sudahlah…. Mungkin sudah saatnya berbakti…..” dengan nada resah. Pada kondisi ini mereka kalah, karena mereka dari awal sudah terjebak pada pilihan untuk menjadi sesuatu. Dan sudah menjbakkan diri akan menjadi bagian dari sebuah sistem.

Fase dimana saeorang lulusan lembaga kursus kepegawaian menuju titik batas kelulusan mereka sudah mulai melunak dan menurut, karena secara umum mereka takut untuk bangkit dan berdiri,dan memilih mencari selamat dan “diluluskan”. Sebab selama menjadi peserta kursus mereka ditanamkan nalar untuk “mengikuti saja arus yang ada jika ingin selamat”, maka pada proses verifikasi penentuan mereka tidak memiliki keberanian untuk berdiri pada pilihannya. Hingga prosesi kelulusan selesai, kekuatan seorang pahlawan juga mengalami pelunturan ynga cukup signifikan, hingga pada batas tertentu hanya akan menjadi “kentut” pada saat kenduri di lingkungan RT. Setelah daptar nilai keluar saat itulah nalar seorang “lulusan lembaga kursus” mulai benar-benar terjadi. Berbagai jalan ditempuh dan di lakukan demi mendapatkan sebuah dasi dan sesetel penyamarataan (seragam). Mereka seakan amnesia dengan apa yang di pahami saat belajar kelompok di perkumpulan dan pergerakan. Ini bukanlah sebuah ujian, melainkan sebuah pilihan untuk menjadi. Pada prosesi inilah kemudian mereka bena-benar sudah mati, belajar berharap untuk mempercepat kematian dengan harapan gaji veteran.

Lebih dari 90 persen dari para peserta kursus ini tidak menjadi kreator, mereka lebih memilih untuk menjadi mereka yang terima jadi dan begitu saja, oke sajalah. seterusnya seperti yang terjadi saat ini banyak mereka yang lulusan sebuah lembaga kursus tinggi negeri/swasta belomba menggadaikan sertifikat kelulusannya dan menjadi pribadi yang teratur meski tidak pernah merasakan ketertiban sama sekali. Memilih untuk diatur daripada merdeka dan terpilih. lebih baik bekerja saja tanpa berfikir daripada repot berfikir untuk melakukan sebuah pekerjaan yang berarti, memilih untuk langsung jadi dan mati daripada membangun dari awal dan menikmati sebuah proses.

Ponorogo 05 10 2017

___________________

Penulis: Coirul Huda
___________________

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon