Thursday, October 12, 2017




Banyak orang takut, marah, khawatir jika disebut bodoh. Sebab kebodohan sudah telanjur menjadi hal yang buruk dan banyak terjadi masalah yang disebabkan oleh kebodohan. Berbagai cara ditempuh untuk menimbulkan kesan bahwa pribadi seseorang itu pandai, pintar dan tidak bodoh. Ada yang dengan memposting, pasang status, nge-twit sesuatu yang ilmiah kelas mulek hingga terkadang pembacanya tak kunjung paham maksudnya, ada pula yang kemana-mana membawa buku tebal dengan judul yang fenomenal meski jarang dibaca.

Di sisi lain banyak orang menempuh jalur alternatif untuk tahu tentang sesuatu agar tidak selamanya dianggap tidak update, tidak pintar. Salah satunya dengan mengikuti akun-akun orang pintar di sosial media. Membagikan setiap status dan twit orang-orang pintar yang mereka ikuti. Lantas, apa mereka kemudian secara perlahan menjadi pintar?. Belum tentu, banyak diantara mereka-mereka ini sudah lama mengikuti akun orang pintar namun tak kunjung pintar. Seperti saya.

Sebab, diantara orang-orang itu tak lebih dari penyebar pengetahuan, mereka tak sempat membaca tulisan-tulisan orang-orang pintar yang sedemikian panjang. Sebagian menganggap "ora tlaten maca" status yang demikian panjang yang hampir menyamai proposal pencairan dana. Dan mungkin juga mereka tak sempat membaca karena sebelum mereka selesai membaca sudah muncul lagi status orang pintar lain yang harus mereka bagikan. Membagikan pengetahuan bagi mereka hampir sebuah kewajiban namun seakan terlupakan untuk berusaha mengkonsumsi pengetahuan untuk diri sendiri.(fdh)

****

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon