Thursday, October 19, 2017




Sering mendengarkan kata “liburan yuk….!” kalimat ini seakan menjadi kalimat pematah atas segala kejenuhan hidup. Menjadi seember air untuk kondisi kering yang terjadi setiap ruang dan waktu hidup dan seakan menjadi seteguk air disaat dahaga yang begitu mendera. Ini baru sekedar kalimat rencana yang belum tentu akan terjadi pada saat yang akan datang. Dengan hanya kalimat saja emosi seseorang telah mengalami penurunan yang cukup untuk melanjutkan kehidupannya. Bahkan kalimat tersebut cukup untuk memompa semangat kembali untuk cepat menyelesaikan pekerjaan yang diangga sebagai beban dan cepat istirahat.

Liburan seakan telah menjadi kebutuhan pokok manusia moderen. Sekecil apapun bentuknya jika itu mampu merenggangkan otot kepalanya bisa menjadi sebuah hiburan tersendiri. Sebab dalam setiap sisi dan lini kehidupannya manusia moderen tidak mungkin bisa “istirahat”, apalagi bagi mereka yang akrab mengenal dunia digital, tau bahkan mereka yang bekerja dan selalu terkait dunia digital. Pekerjaan mereka tidak melulu hanya bisa diselesaikan di satu ruang tertentu dengan alat tertentu pula. Alat mereka telah menjadi bagian dari diri mereka. Semenjak bangun sampai bangun lagi mereka sulit untuk dipisahkan dari tools yang mereka miliki(gadget). Andai saja dalam tidur mereka masih dapat bekerja maka niscaya dia tidak akan pernah tidur dan terus bekerja hingga jantung mereka berhenti karena aus.

Seakan mereka menjadi maniak dan terus kecanduan dengan kerja. Meskipun pada sisi yang lain mereka jenuh dengan apa yang mereka lakukan namun mereka tidak bisa mengelak dari sesuatu yang disuntikkan ke alam bawah sadar mereka, yaitu sebuah kesadara dimana jika mereka tidak kerja maka mereka minimal akan sengsara dan maksimalnya mereka akan mati pelan-pelan karena tak mampu menopang hidup mereka karena tak memiliki materi untuk menopang kehidupannya.

Karena efek keharusan ini lah mereka menjadi sulit untukmenemukan kenikmatan dalam hidup. semuanya adalah tekanan yang harus di hilangkan dengan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Padahal jika di lihat secara utuh, tak ada satupun dari pekerjaan di depannya akan selesai, akan terus bertambah, dan tidak pernah akan berkurang samasekali selama manusia itu hidup dan bernafas. Dengan demikian dalam angan manusia moderen secara umum mereka berimajinasi untuk selesai dan berlibur, akan tetapi kenyataannya tidak ada satu pekerjaan yang bisa selesai kecuali jeda sesaat seperti nafas yang keuar dan masuh terus menerus dan berhenti saat mati. Dengan angan-angannya saja mereka mereka tidak pernah akan menemukan satu titik ringan, bisa jadi hanya beban yang terus menumpuk karena setting pemikiran mereka telah salah dari awal yaitu selesai. Bertambah hari dan bertambah waktu mereka akan menumpuk kekecewaan yang semakin menggunung sebab banyak hal yang sulit untuk dicapai bahkan kemungkinan untuk tercapainya sangat kecil sekali karena kebanyakan kesempatan itu tidak pernah ada dan tidak akan pernah terwujud, setiap saat dan setiap waktu hanya persoalan yang harus diselesaikan. Seperti lingkaran setan.
[next]


Menurut sebagian orang positive thinking merupakan jawaban yang paling tepat. Akan tetapi positive thinking merupakan sebuah problem tersendiri bagi mereka yang tidak pernah belajar berfikir. Karena untuk berfikir membutuhkan sebuah latihan yang tidak sederhana, meskipun berfikir adalah naluri paling mendasar manusia akan tetapi berfikir bukanlah sebuah kegiatan yang mudah, karena berfikir bukan sebuah prasangka belaka, memerlukan keterlibatan emosi dan kemampuan untuk mereview apa yang telah terjadi dan mengumpulkannya dalam satu bundel dan mengevaluasinya. Jika berfikir hanya sebuah prasangka belaka maka orang gila tidak berbeda dengan “gila” yang memiliki dasar berfikir. Akibatnya mereka yang “gila” juga masuk dalam kategori gila yang bisa di pasung walau mereka tidak mengamuk. Kemudian yang terjadi adalah penyamarataan. Dengan demikiaan untuk berfikir membutuhkan sekian deret kegiatan praktis yang wajib di miliki setiap manusia yaitu kedewasaan. Dengan tanpa kedewasaan, berfikir pun akan menjadi beban tersendiri sehingga tidak akan memberikan ruang yang luas bagi mereka yang mengalami tekanan. Maka positive thinking bukan jawaban yang mudah untuk mengajak manusia membangun ruang yang segar bagi dirinya sendiri. Positive thinking butuh proses dan tidak sertamerta dapat dinikmati begitu saja seperti air di oase padang pasir.

positive thinking hanya lahir dari mereka yang mampu menciptakan ruang luas (swap) dalam nalarnya. Sehingga mampu menampung dan melontarkan kondisi yang ada pada proporsinya masing-masing. Ini merupakan bentuk liburan yang paling sederhana dan paling mungkin dilakukan oleh mereka yang merasa sedikit waktunya. Namun positive thinking menjadi beban ketika tidak dimasukkan dalam alam bawah sadar dan diciptakan sebagai sebuah kesadaran yang terus menerus tanpa diperintah. Contoh yang paling sederhana adalah tersenyum riang saat bangun tidur hingga mencapai kesadaran penuh dan tidak mudah tersinggung dengan apa yang terjadi di sekitar kita setiap harinya. Ini bentuk kesadaran yang paling sederhana tersenyum, jika keondisi ini belum tercapai maka sesungguhnya kita belum mampu utnuk melakukan positive thinking itu sendiri. Karena masih butuh waktu untuk mengembalikan kesadaran. Kesimpulannya banyak hal yang dilakukan dengan tanpa sadar, atau tanpa berfikir sama sekali, atau bahkan hanya sebagai rutinitas belaka.

Ketika kesadaran merupakan bagian dari hidup, tak ada satupun yang dilalui dengan emosi, seluruhnya berlalu dengan kenikmatan yang tiada tara. Dinamika kehidupan berlalu begitu saja dan selalu menjadi kesan yang menarik dan pantas untuk diapresiasi. Setiap langkah adalah makna yang tak harus berupa kata-kata. Sebab langkah adalah motivasi untuk sebuah kebaikan, bukan langkah yang mengalir begitu saja tanpa efek yang baik bagi lingkungan dimana dia hidup. Pancaran yang penuh makna ini hanya akan muncul dari mereka yang menjalani hidup dengan kesadaran penuh untuk menikmati hidup sebagai anugerah yang pantas untk diperjuangkan dengan kekuatan yang dimiliki dengan tanpa unsur dengki, mengalir dengan motivasi utuh menjalani peran yang seharusnya, bukan peran yang di-harus-kan. Titik tolak yang paling mendasar adalah tersenyum menyambut hari dan menikmati hari dengan senyuman sepenuh hati.

Pencapaian berupa “senyum saat bangun pagi” bagi mereka yang terlalu sibuk dikejar ke-harus-an masih mimpi karena saat bangun kesadaran mereka telah dituntun untuk memepercepat waktu untuk sampai pada tujuan dan menyelesaikannya dengan cepat dan kembali berharap menemukan hiburan. Namun bagi mereka yang mampu bersikap dan menyikapi hidup, hidup akan menjadi indah. Saat mereka mampu mencapai keindahan dan terus menerus menikmati hidup seutuhnya dengan sendirinya pemikiran mereka akan berkembang dan akan selalu mencari kekurangan diri. Nalar akan menuntun mereka kearah refleksi dan evaluasi diri. Disinilah pemikiran mulai menemukan momentum menemukan diri sebagai diri yang seutuhnya bukan diri yang mengabdi dan terkangkangi oleh kekuasaan lain yang sebenarnya derajat dan kedudukannya sama.

Dari kesadaran akan kesamaan derajat dan kedudukan menumbuhkan sifat keberanian yang tertata rapi dengan sendirinya. Kesadaran yang utuh akan mengajarkan pada manusia untuk menjadi manusiawi. Kemanusiawian tidaklah bawaan melainkan bentukan dari diri sendiri manusia sendiri berdasarkan dimana manusia tersebut hidup. Dan pelajaran tentang kehidupan bukanlah sebuah hadiah, melainkan proses yang harus dilalui bukan hanya dibaca. Dinikmati, dilalui, dan kemudian mati dengan keikhlasan sepenuhnya.
_______________
(Avatar Huda)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon