Monday, October 2, 2017




Ada banyak hal yang mungkin manusia sering terbelalak dan kagum, bahkan lebih sering terseret pada kemungkinan-kemungkinan yang cenderung aneh dan tidak biasa. rasa kekaguman ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh,yang menjadikannya aneh adalah tingkah laku yang mengiringi kekaguman tersebut. sebab rasa merupakan bagian dari kehidupan dan susunan manusia itu sendiri. berangkat dari kekaguman inilah kemudian segala sesuatu yang terapar di muka bumi ini menjadi dan terhias, citra segala sesuatu dan ciptaan yang menjadi bagian dari kehidupan manusia di muka bumi ini mejadi lengkap. namun kemudian kekaguman ini akan menjadi sesuatu yang tidak baik ketika menyeret kesadaran manuia pada ranah trans(yang bukan bermakan sebagai alat tranportasi semacam "transjakarta, trans jogja dst).


Kondisi trans ini tidak harus berupa sebuah kemabukan dan kelemahan secara fisik belaka namun sebuah kondisi dimana manusia sudah tidak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri dan mencoba meniru kondisi obyek yang dikaguminya. Pada kondisi ini secara umum manusia tidak memiliki kesadarannya sendiri dan cenderung merasa benar dengan apa yang dilakukan. Kondisi kondisi ini pada masa ini cenderung diciptakan dan diinfeksikan dengan berbagai cara terutama melalui media massa, padahal manusia moderen tidak pernah sepi dari media massa, bahkan dalam kondisi mengejan di WC pun masih sempat untuk berkomentar akan kejadian yang jauh diluar sana bahkan jika di tempuh dengan pesawat sekalipun butuh waktu berjam-jam.


Dengan kondisi yang demikian ramainya manusia moderen cenderung sulit dan kuwalahan untuk menemukan kesadaran dirinya, bahkan jika semenjak masih kecil dan belum mampu membaca sudah dijejali (dipaksa) oleh lingkungan sosial dimana  dia hidup)) dengan gadged, dan segala sesuatu yang mengajarkan pada dirinya untuk tidak mau berusaha dan mengannggap segala sesuatunya bisa mudah untuk ditemukan dengan sekeping alat, dengan demikian manusia moderen telah tersulap menjadi sebuah kotak yang penuh dengan kode yang mungkin dengan lebih mudah di kendalikan karena nalarnya sudah ter hipnotis dari apa yang ada di depannya. lebih parahnya pendidikan yang seharusnya lahir dari keluarga mereka sekarang lebih dipercayakan pada lembaga, yang nota bene para pengajarnya sibuk dengan kerepotannya sendiri yang lebih praktis yaitu memenuhi kebutuhan hidup yang juga membelit, padahal gaji mereka tidak pernah cukup untuk memenuhi keinginannya.


Dari keadaan para pengajar tersebut kemudian pendidikan yang seharusnya mendidik namun malah turun kasta menjadi mengajar, yang hasilnya yang penting diajar dan absen perkara mengerti atau tidak itu urusan belakang, yang penting hari ini masuk dan terdaftar sebagai peserta kerja hari ini. dan agar lebih mudah kasih sajja mereka PR yang bisa dikerjakan dirumah alasannya agar anak-anak mau belajar. dengan motivasi ini maka secara emosi anak-anak hanya akan belajar jika ada PR. Karena mau tidak mau emosi dan motivasi ini akan merembes keluar dari diri guru, sebab harus diingat bahwasannya diri manusia itu sebuah cahaya yang tidak mungkin di kantongi atau di bungkus. padahal pada kenyataannya orang tua anak berharap penuh pada sekolah untuk mendidik anaknya sukses seperti apa yang di iklankan oleh lembaga tersebut.


Perlu di lihat lagi di pinggir-pinggir jalan maupun sepanduk ataupun baliho yang tersebar di penjuru jalan maupun media banyak sekolah-sekolah yang mengiklankan diri bahwa mereka yang terbaik dalam bidang tertentu atau merasa mampu menjadikan seseorang seperti yang di impikan. Padahal pada kenyataannya dari sekian ribu manusia yang sekolah di satu sekolah tertentu akan menjadi sukses jika didukung oleh sekian variable pendukung, tidak hanya sekolahan tertentu yang menjadikannya sukses.


Dari sini bisa di tuduh bahwasannya lembaga pendidikan sudah bukan lagi sebuah lembaga pendidikan melainkan sebuah pabrik mental manusia untuk menjadi penghamba  pada sesuatu. bahkan sekolah dan lembaga pendidikan  bukan sebagai wadah untuk mematangkan emosi dan kedewasaan seseorang melainkan hany sebuah pasar yang menyalurkan (Baca: menjual) manusia berdasarkan ketrampilan yang dimiliki atu berdasarkan hal lain yang menjadi kategori pendidikan yang diselenggarakan. selain daripada itu disekolah tidak pernah satupun yang mengajarkan manusia untuk menjadi manusia kecuali mengajarkan untuk menjadi pekerja yang baik dan teratur. bukan manusia yang merdeka dan memiliki kepribadian yang utuh. bahkan lembaga pendidikan formal agama sekalipun hanya mengajarkan bagaimana hidup secara praktis tanpa memberikan pemahaman dan definisi seutuhnya. sehingga pada level tertentu pendidikan agama dalam konsep kurikulum hanya sebuah ruang kosong untuk mengisi waktu luang menunggu umur untuk pantas dan sah untuk bekerja itu saja.


Dengan demikian setelah mereka keluar dari lembaga tersebut mereka tidak menemukan modal pemahaman yang tepat maka di kepala mereka yang berharga adalah mereka yang secara finansial berlebih lah yang berbahagia, sehingga mereka berlomba-lomba untuk mencapai itu dengan tanpa alternatif sedikitpun sehingga mereka memaksa diri untuk masuk dalam sebuah sistem dan menjadi babu sistem tersebut. karena secara umum gaji/apa yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan harga yang menjadi dorongan iklan di tv atau masmedia yang ada maka yang menjadi momok mereka dalam tidur maupun terjaga mereka hanya duit dan duit. dari sini sistem kapitalis keluar sebagai pemenang.


Keterseretan ini semakin jelas ketika melihat pola pikir manusia dimanapun berada, mulai dari wadah yang bernama lebaga pendidikan sampai yang paling parah warung kopi, yang keluar dari mulut mereka selain kata kunci duit tidak ada.apapun yang mereka bicarakan dan diskusikan maka kesimpulan akhirnya adalah duit. Pada kondisi ini secara umum manusia dewasa yang tergambar di kepala mereka sejak bangun pagi sampai menjelang mati hanya satu yaitu duit. Duit merupakan katakunci yang sangat familiar dikepala manusia. Hal Ini sebenarnya bukan sebuah kesalahan jika pada proporsinya. namun jika sudah menjangkiti manusia secara keseluruhan dari yang paling kuli sampai yang paling elit, maka jangan salahkan kehancuran, sebab hanya ada satu kepentingan apapun yang dilakukan manusia yaitu mendapatkan upah dan mendapatkan laba sebanyak-banyaknya (seperti konsep ekonomi kapitalist), jika mungkin dan harus mungkin menekan serendah-rendahnya nilai biaya yang harus dikeluarkan untuk meraih tujuan tersebut. berangkat dari konsep inilah yang kemudian melahirkan bentuk bentuk penjajahan(kolonialisme) yang melahirkan manusia pada dua kelas yang sangat menyakitkan yaitu kelas kuli dan kelas mapan. Dimana pembagian juga berdasarkan kategori-kategori yang demikian panjang. namun tidak akan terjelaskan disini.


apa yang paling menakjubkan dari sekian kondisi yang terjadi di muka bumi modern ini selain wacana, yitu duit. jadi yang paling berkuasa atas manusia pada umumnya hanya dua bagi mereka yang masih menyisakan pengetahuan  sebagai cara manusia untuk hidup yang paling berharga adalah memelihara wacana, sedangkan mereka yang tercipta sebagai pekerja dan pekerja, adalah sukses finansial yang berarti duit. ini yang terjadi pada kondisi umum sedangkan pada kondisi kondisi yang tertentu pasti berbeda pula.
bagi mereka yang masih merasa takjub dengan pengetahuan sedikit banyak mereka masih memiliki ruang untuk sedikit berfikir, namun bagi yang sudah tercipta dan di design sebagai pekerja samadengan kerja adalah utama. tak ada  yang berarti selain itu.

______________
Penulis: Choirul Huda 

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon