Friday, October 20, 2017



“ Jo ada motor di jual…!” kata Karmin pada Jono yang lagi bengong. Agak lama Jono diam seakan tak mendengar apa yang dikatakan oleh karmin. Sambil mengaduk terus kopi dalam cangkir yang sudah mulai dingin.

Karmin mendekat dan menepuk pundak Jono dan mengulangi kalimatnya “Jo ini ada motor dijual, aku dengar kemarin kamu cari motor buat istrimu.” Lanjut Karmin.

“oh iya…” sedikit tergagap. “Emang motor yang mana yang akan kau jual?” tanya Jono
“yang jelas bukan motorku sendiri, tetapi motor Karijo yang berwarna kuning.” terang Karmin
“mau di jual berapa?” tanya Jono sambi menyeruput kopinya.
“ 4 jutaan katanya…. “ sahut Karmin.

Dari percakapan tersebut diatas sudah bisa ditentukan siapa makelar dan siapa pembeli. Dalam proses jual beli ini penjual belum tentu menjadi subyek utama, penjual bisa jadi hanya terima jadi atas transaksi yang dilakukan oleh perantara atau makelar. Model jual-beli seperti ini memudahkan penjual di satu sisi dan disisi lain memberikan pekerjaan pada orang yang tidak memiliki barang namun juga bisa terlibat dan mendapatkan keuntungan dari proses tersebut. Posisi makelar dalam jual-beli barang yang memiliki nominal cukup besar menjadi penting, karena dia menjadi orang pertama yang menemui pembeli secara langsung dan cukup memiliki pengetahuan atas calon pembeli di lapangan. Dan menurut pengertian wikipedia Makelar adalah orang yang bertindak sebagai penghubung antara 2 belah pihak yang berkepentingan. Pada praktiknya lebih banyak pada pihak-pihak yang akan melakukan jual beli.

Dalam perdagangan moderen makelar memiliki nama yang cukup keren antaralain, sales, public relation(purel), marketing dll yang identik. Namun fungsi dan jabatannya sebenarnya sama dengan makelar. Sebesar aapun perusahaan yang berdiri dan semahal apapun barang yang di jual makelar adalah posisi yang paling penting, karena merupakan penghubung paling dekat antara penjual dan pembeli. Makelar merupakan profesi yang paling mungkin di tempuh oleh semua orang, sebab modalnya tidak terlalu besar dan semua orang memiliki modal dasar yang cukup, yaitu bahasa yang dipahami oleh pembeli. Sedangkan kemampuan yang lain bisa di tambah sambil praktek. Karena makelar adalah bicara praktek lapangan bukan bicara tentang teori yang muluk-muluk dan sitematis. Meskipun ada teori yang membicarakan tentang konsep makelar namun pada kenyataannya menjadi makelar adalah kontekstual dan bukan sebuah drama yang bergerak berdasarkan naskah, namun impromtu dan lebih banyak mengandalkan improvisasi dan kecerdasan pelaku. Kecerdasan improve ini tidak bisa ditempuh dalam kelas, melainkan hanya bisa ditempuh melalui praktek menghadapi klien yang sebenarnya. Pada kenyataannya banyak pengusaha yang sukses menjadi makelar namun ijasahnya tidak terlalu tinggi bahkan hanya cukup. Kemampuan mereka memainkan kondisi cukup sebagai bekal mereka untuk menjadi sukses. Dan Sederhananya makelar adalah konduktor antara penjual dan pembeli, atau sebagai perantara antara satu pihak dengan pihak lain sebagaimana seharusnya. Dimana peran konduktor ini menjadi tolokukur kesuksesan bisnis.

Sebagai perantara tentunya tidak makelar saja, banyak profesi yang sejatinya mirip dengan makelar namun beda ruang gerak dan apa yang ditransformasikan. Pada awalnya Guru adalah sebuah sebutan yang sangat mulia. Pada masa lampau guru adalah seorang manusia yang mumpuni dibidang yang dia geluti. Jika seseorang disebut sebagai guru silat maka dia memahami seluk beluk dunia persilatan secara umum dan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain pada umumnya. Entah karena memiliki tehnik yang dia ciptakan dalam beladiri, karena memiliki kesaktian yang cukup tinggi atau sudah mencapai titik kebijaksanaan tertinggi menurut kepercayaan yang ada.

Guru adalah manusia yang terhormat. Bukan saja karena pengetahuannya, melainkan dia juga pendidik yang ulung dan mampu memahami kondisi para muridnya satu persatu secara detail. Bahkan paling tidak mampu membaca arah pemikiran murid setelah keluar dari ruang ajarnya. Ini gru dijaman KISANAK masih berlaku sebagai panggilan, jaman dimana penghitungan waktu masih menggunakan bulan dan matahari, jaman dimana belum ada gelombang elektromagnetik yang diatur sedemikian rupa. Pada jaman ini guru sangat-lah berharga dan tidak semua daerah memiliki sosok guru yang dapat diandalkan. Jika ada seorang yang ditokohkan belum tentu dia dapat dijadikan guru, sebab untuk menjadi guru pada jaman itu harus memenuhi syarat yang tidak sederhana, seluruh kehidupannya merupakan cermin dari kedirian yang dimiliki olehnya, minimal mendekati sempurna. Tidak hanya karena sebuah persaksian saja layak disebut guru, karena biasanya persaksian yang disengaja tanpa uji kebiasaan hanya akan melahirkan manipulasi dan kepalsuan.

Untuk menjadi guru yang seutuhnya pada jaman baheula tersebut, seseorang harus mumpuni dan memiliki sifat bijak yang tidak dibuat-buat. Bahkan ijasah yang dimilikinya tidak hanya selembar kertas dan kutipan pencapaian, melainkan sebuah laku nyata yang pantas dianggap sebagai contoh yang patut dan selalu memberikan keteduhan jika dia datang pada satu tempat. Sifat teduh inilah kemudian melahirkan kedamaian yang pantas. Jadi guru yang pantas pada masa itu tidakpernah memberikan PR yang rumit dan sulit, selalu meberikan contoh nyata dan mudah dipahami oleh yang awam dan memberikan solusi yang tepat bagi mereka yang telah ahli. Meskipun seorang manusia biasa namun nalarnya sangat luarbiasa karena mampu mengendalikan diri, dan merangkul semua jenis manusia dalam pribadinya sendiri. Itu dulu, saat Firaun masih main pasir.

Seakan sudah menjadi keharusan dimana dinamika hidup selalu mengalami pergeseran, demikian halnya guru, dahulu kala sebelum menjadi seorang guru manusia perlu menemukan kediriannya secara utuh dan semaksimal mungkin menjadi bijak, namun pada saat ini itu tidak perlu lagi. Kursus 3,5 tahun dan mendapatkan selembar pernyataan dan selembar salinan pencapaian seseorang sudah bisa menjadi seorang guru, apapun yan diajarkan mampu atau tidak, memahami kancah atau tidak yang penting terdaftar sebagai guru, maka dia berhak menjadi panutan. Dengan demikian untuk menjadi guru sudah bukan hal yang rumit, yang penting mau dan mau mendaftar itu sudah cukup. Gak penting persoalan kemampuan. Semuanya bisa. Maka jangan salah jika pada saat ini banyak siswa sekolah yang memiliki banyak pekerjaan rumah dan banyak siswa yang stres ketika pulang dari sekolah. Karena banyak diantara para GURUwan/Guruwati yang hanya membaca LKS didepan kelas dan tidak memberikan kapahaman pada murid mengenai pelajaran yang diajarkan. Bahkan tidak sedikit yang tidak mengerti samasekali dengan apa yang diajarkan. Yang penting datang dikelas dan absen setiap hari. Itu sudah dianggap cukup. Mengajar didepan kelas adalah sebuah prosesi gugur kewajiban belaka. Yang penting dapat pekerjaan.

Karena guru adalah sebuah pekerjaan maka yang penting kelihatan kerja dan absen sesua dengan kebijakan itu sudah cukup. Karena banyak yang hanya menganggap itu sebagi pekerjaan maka tidak salah jika sikap dan sifatnya tidak mampu menghadirkan keteduhan. Jangankan keteduhan, sifat untuk tidak memihak dan memilih, mampu memberikan pemahan saja masih cukup jauh. Jika mereka dituntut untuk menjadi yang sempurna mereka juga akan ngeles dengan berbagaimacam alasan, serta logika maka pada jaman ini jangan terlalu berharap pada lembaga pendidkan yang namanya sekolah, sebab diantara sekolah itu hanya menjual slogan dan impian. Karena penghuni sekaligus pengelola hanyalah mereka yang mencari pekerjaan dan takut untuk disebut sebagai pengangguran berijasah.

Demikian halnya Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.[1][2] akan tetapi pergeserannya dari pengertian ini juga sangat signifikan. Tidak jauh beda dengan para guru. Sehingga lembaga pendidikan sekolah dan para pengendalinya tidak jauh beda dengan para makelar yang hanya menjadi perantara namun bedanya mereka yang deiseut dosen dan guru adalah perantara “ilmu pengetahuan” jadi hanya memberitahukan jalan yang seharusnya ditempuh, tidak pernah menjadi penuntun yang baik, meskipun tidak semuanya demikian namun yang tidak dengan yang iya lebih banyak yang iya.

Jaman sekarang jika kita mau survey di perguruan tinggi-perguruan tinggi kita akan lebih banyak menemukan dosen yang mampu menggunakan PowerPoint (meskipun memang dituntut untuk bisa) daripada dosen yang pandai menulis dengan menggunakan white board. Alasannya karena lebih mudah dan sederhana. Kalimat yang sering terucap pun terkesan monoton. “begini … kita bicara satu topik ini dan bla-bla… silahkan catat ringakasan yang tampil didepan. Dst” dan bahkan banyak kejadian dimana seorang mahasiswa S2 yang nervous dan seakan akan dihadapkan pada sidang penghakiman ketika akan presentasi makalah yang dibawakan (entah makalah tersebut dibuat sendiri atau hasil copas). Padahal banyak diantara mereka yang sedang menempuh S2 adalah mereka yang sudah berprofesi menjadi guru atau dosen. Dari beberapa temuan kejadian diatas bisa dipertanyakan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini. Jadi tidak salah jika jaman sekarang banyak mahasiswa dan para akademisi yang memilih untuk jalan pintas, sebab sering ditemukan kalimat “ yang penting lolos dan lulus, ikuti saja maunya pak…..”

Karena kalimat “yang penting lolos dan lulus” ini kemudian tidak hanya selesai begitusaja dan tidak menyisakan persoalan di belakang hari. Karena “yang penting...” ini pada saat mereka terjun dikancah yang selanjutnya seperti DPR maupun aparatur negara kebanyakan mereka banyak yang hanya “sing penting lolos dan acc. Dengan demikian naluri kritis untuk mencoba mempertahankan kebenaran yang dimiliki pun seakan sudah mati. Saat carut marut dan gelombang kerusakan ini semakin besar maka keadan sudah tidak mungkin lagi untuk di benahi jika ada kesempatan maka pembersihan membutuhkan waktu yang cukup lama, ibarat kerak keramik sudah sangat tebal dan kuat menempel.

Karena yang penting lolos dan lulus ini pulalah yang menciptakan makelar-makelar baru di wilayah yang seharusnya bukan wilayah perdagangan. Melahirkan para guru yang hanya pandai mendiktekan LKS, dosen yang tidak mengajar program Office namun pandai menggunakan MS powerpoint, dan DPR yang pendai ngeles dan membuat alibi. Jadi dalam kerangka pendidikan dasar sudah tertanam nalar yang penting lolos dan lulus, dari para master dan para pengajar lanjut kita. Salam makelar….
[Avatar Choir]

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon