Saturday, October 14, 2017




Dari antara seluruh makhluk di kolong langit, sesungguhnya hanya manusialah yang diberi berkah mewariskan pemikiran. Superioritas spesies kita, ditempa evolusi berabad-abad, hingga mampu membawakan pengalaman melintasi ruang dan waktu. Namun, segala yang dimiliki sekian lama memang kadang dianggap biasa, dianggap membosankan, dilupakan, lalu hilang. Itulah literasi, kemampuan superior yang ditinggalkan.

Tulisan, Sebuah Kotak Penyimpan Pikiran
Berawal dari mural dan cap tangan di dinding gua hingga kembali lagi jadi potongan stiker di dinding media sosial, manusia memiliki kebiasaan membagi apa yang ia pikirkan. Entah itu pengalaman, imajinasi, maupun ramalan-ramalan.
Jika diibaratkan, tulisan bagaikan peti harta karun berisi berbagai kejutan. Sebab orang lain takkan pernah mengira apa yang akan dirasakan setelah membaca sebuah tulisan, bahkan si penulis sendiri pun tidak.

Sebagai salah satu media komunikasi, tulisan seperti sebuah jejaring penghubung ilmu manusia. Ia mampu berfungsi menjadi 'network' sekaligus 'storage'. Disatukan dalam sebuah sistem server bernama pemikiran, dengan tulisan seharusnya umat manusia tidak terpuruk seperti sekarang. Bayangkan saja, jika umat manusia menuliskan segala ilmu yang mereka miliki tanpa tendensi subyektif, seberapa besar efeknya bagi dunia?

Andai saja dunia tidak hanya berfokus pada economical trading saja, namun juga keilmuan, tentu lebih baik.

Rangkaian Baca-Tulis
Iqra!
Bacalah. Lihatlah. Observasi. Amati sekitarmu dan pahami. Al-Qur'an menyarankan kepada kita untuk mulai sadar lingkungan sejak dulu. Bahkan memuatnya sebagai 'headline'. Tentu bukan tanpa alasan kitab suci tersebut dimulai dari perintah membaca untuk mengawali rangkaian wahyu berikutnya.

Membaca sesungguhnya bukan hanya sekedar memaku diri di hadapan buku. Apa yang bisa manusia baca tersebar hampir di seluruh lini kehidupan. Dunia menulis dalam gesekan-gesekan sosial, fenomena alam, bahkan hal paling sederhana seperti apa sarapan anda pagi ini. Dan membaca adalah mengamati lalu memahami apa yang hadir di hadapan kita. Tulisan, apapun wujudnya.

Lalu, perintah Iqra sesungguhnya belum selesai hanya dengan membaca. Kegiatan membaca belum utuh tanpa lantas memproduksi kembali apa yang kita konsumsi. Ketika membaca, maka secara otomatis kita wajib menyelesaikan kegiatan tersebut nanti dengan menulis. Begitupun sebaliknya.
Sebab rangkaian baca-tulis adalah sebuah rantai proses tanpa henti. Bukan bertujuan sampai di suatu tahap, melainkan untuk terus melangkah mencapai hal-hal yang baru.(Laksamana Faiz)


Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon