Thursday, October 26, 2017




BIASANYA jalan utama dari Desa saya menuju ke kota diwaktu pagi hingga siang dipenuhi truk pengangkut pasir, saya mencoba melalui jalur alternatif untuk menghindari banyaknya truk yang sering kali menyebabkan mata klilipan debu, belum lagi saya harus sering berhenti karena truk pengangkut pasir yang terlalu banyak menyebabkan jalanan macet, diperparah dengan jalan yang rusak parah, terlalu banyak lobang sehingga harus ekstra hati-hati dan harus rela mengantri dengan truk pasir yang jalannya lambat, terlebih saat truk pasir terperosok lobang yang terlalu dalam.

Awalnya saya berharap dengan mengambil jalur alternatif ini, perjalanan jadi lancar dan waktu tempuh ke tujuan lebih cepat. Ternyata tidak, jalur alternatif juga dipadati kendaraan lewat, yang mungkin pengedaranya memiliki harapan yang sama dengan saya, mencari waktu tempuh yang lebih cepat. Beberapa truk pengangkut pasir juga demikian, menempuh jalur alternatif ini, mereka juga memiliki harapan yang sama, waktu tempuh ketujuan lebih cepat. Alhasil jalur alternatif malah lebih macet. Sebab jalur alternatif lebih sempit dari pada jalur utama.

Bukan hanya perkara memilih jalur altenatif, soal waktu berangkat menuju tempat tujuan terkadang juga demikian. Beberapa orang menganggap berangkat lebih pagi jalanan lebih sepi dan berharap perjalanan lebih lancar. Namun hampir semua pengguna jalan beranggapan yang sama, mereka berangkat lebih pagi berharap jalanan lebih sepi, pada akhirnya jalanan tetap padat diwaktu yang lebih pagi tersebut.

Demikian pula dengan persoalan gaya hidup dan berfikir anti maintream. Banyak orang yang berusaha anti maintstream tapi karena semua orang memaksa untuk anti mainstream, akhirnya ke-anti mainstream-an ini menjadi mainstream, umum dan populer. Akhirnya banyak orang yang berusaha mainstream gagal mainstream.

Namun berbeda halnya dalam hal berdagang atau jenis usaha lain. Jika ada tetangga berdagang atau membuat suatu usaha tertentu yang kelihatan ramai dan berpotensi ekonomi bagus, tidak semua orang memilih jalur alternatif. Malah, kebanyakan dari kita dan orang-orang disekitar kita berusaha untuk menirukan usaha yang sama dengan harapan usaha yang sama ini akan menuai kesuksesan seperti halnya usaha tetangga yang lebih dahulu memulainya. Namun yang terjadi adalah, bukan kesuksesan yang sama yang dicapai namun sepinya usaha tiruan ini.

Demikianlah jika kebanyakan orang berpikiran sama, memilih hal sama dan memiliki kecenderungan yang sama. Yang terjadi adalah kekacuan, kepadatan dan menghambat perjalanan. Perjalanan apapun, termasuk perjalanan peradaban.

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon