Friday, October 13, 2017

Kesadaran Fanatisme Kebangsaan
Opini oleh Ariny S.

Era banjir informasi dan berkembangnya teknologi komunikasi, banyak berita-berita yang perlu dipertanyakan akurasinya. Setiap hari informasi yang dikenal dengan istilah ‘hoax’ menggenangi masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang serta merta mengonsumsi berita-berita secara mentah. Tanpa pemikiran kritis terhadap kebenaran suatu teks, masyarakat termakan isu-isu hoax yang disebarkan. Alhasil konflik sosial di masyarakat marak menjadi sebab perpecahan dan perseteruan.
Kondisi psikologis bangsa yang carut marut akibat problematika internal, tentu dimanfaatkan oleh pihak asing. Kapitalisme memasuki setiap rongga dan nafas bumi pertiwi. Pemikiran luhur dan tingkah laku warisan terdahulu sudah teracuni oleh arus global dan rakyat cenderung bersikap ala barat. Lebih bangga dengan produk asing daripada produk handmade buatan negara sendiri. Lagi-lagi sikap ini sudah merambah ke setiap saraf pemikiran rakyat Indonesia dengan sangat halus tapi tertanam kuat.
Masyarakat tengah berada di posisi perang, yaitu perang kepercayaan dan saling menonjolkan klaim kebenaran. Setiap kelompok ingin dianggap dan diakui kebenarannya. Padahal, Thomas Kunt telah mendobrak pemikiran tradisional seperti itu. Kebenaran hanyalah sebuah konsep dan paradigma. Di dunia ini tidak ada tampilan wajah kebenaran itu sendiri.
Akan tetapi masyarakat masih diliputi jiwa egoisme yang tinggi. Sehingga kesadaran akan persatuan dan keberagaman masih sangat minim di masyarakat. Apabila tidak ditekan dengan berbagai usaha penyatuan, persoalan ini akan mengancam keutuhan negara. Kiranya rakyat perlu menata kembali hatinya dan belajar dari masa lalu, yakni sejarah.
Apabila dibayangkan, para pendahulu bangsa akan menangis darah apabila melihat kemerdekaan yang diperjuangkannya di sia-siakan seperti ini. “Jangan melupakan sejarah”. Kalimat itu memang benar sebagai nasihat untuk semua elemen bangsa. Cinta tanah air menjadi sebuah keharusan. Sudah selayaknya rasa nasionalisme ditumbuhkan kembali di benak dan perilaku setiap manusia yang lahir di bumi Indonesia.
Menumbuhkan kembali rasa nasionalisme salah satunya dengan mendengungkan lagu kebangsaan. Lagu tersebut tidak semata-mata dinyanyikan sebagai bentuk seremonial saja. Akan tetapi lagu kebangsaan Indonesia Raya mampu menguak kembali rasa nasionalisme dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta rasa terimakasih untuk para pendahulu negara.


Lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan berdiri tersebut tidak hanya sebagai perlakuan aturan, akan tetapi terkandung makna mendalam sebagai ‘ikrar cinta’ terhadap Indonesia. masyarakat mesti mengingat, bahwa kemerdekaan negara bukanlah hadiah. Kemerdekaan ini adalah hasil dari bentuk perjuangan keras para founding father.
Meskipun telah merdeka, akan tetapi Indonesia ini banyak sekali negara maju yang mengincar. Terbukti dengan membanjirnya penanaman modal dan perusahaan asing yang dibangun besar-besaran di Indonesia. Selain itu juga paham-paham asing di luar pancasila masuk merasuki jiwa-jiwa masyarakatnya. Ditambah lagi dengan pihak-pihak internal yang menyebar informasi adu domba hanya untuk menuruti kerakusannya.
Maka perlulah bagi kita sebagai rakyat Indonesia berpaham fanatisme kebangsaan tanpa mencaci negara lain. Kita merasa memiliki negara ini. Dengan begitu kita harus mempertahankan idealisme tersebut. Bukan semata-mata fanatisme bodoh. Apa yang kita miliki mesti kita pertahankan. Serta menegakkan negara tercinta ini dengan berpegang pada empat pilar yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang 1945.
Meskipun banyak paham yang masuk hingga aliran nadi, jati diri dan kehormatan bangsa sudah selayaknya dijaga. Seperti air laut yang tetap terasa asin meski bermilyar-milyar kubik air hujan menghujaninya setiap musim.

Ponorogo, 12 Oktober 2017




Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon