Monday, October 23, 2017




CANGKEM adalah bahasa Jawa yang memiliki arti jalan masuknya makanan dan sebagai alat komunikasi dalam bentuk suara yang diasumsikan sebagai bahasa, atau sederhanaya adalah mulut. Cangkem selain berarti sebagai mulut, bisa juga berarti “yen dicancang mingkem” artinya kalau di pekak/ditali terkatup atau diam. Mulut jika di biarkan maka akan mengumbar berbagai macam bau bangkai. Meskipun pada awalnya mengumbar semerbak wangi namun dikelanjutannya jika tak ada kendali maka akan menjadi semacam WC yang akan mengeluarkan bau yang tak sedap.

Ada pepatah mengatakan mulutmu harimaumu, mungkin ini benar adanya sebab karena mulut pula segala sesuatu menjadi, seperti kata yang pertama kali di tuliskan oleh umberto ecco dalam novelnya The Name of Rose “In the beginning was the Word and the Word was with God, and the Word was God. ” dan demikian juga Al-Kitab di kitab kejadian. Dan dalam islam ada kalimat “Kun Fayakun. Jadi segala sesuatunya berawal dari kata yang meluncur dan kemudian menjadi. Jika saja Tuhan memberikan sifat adilnya kepada manusia niscaya dunia ini sudah lebur sejak mulanya sebab apa yang diinginkan telah menjadi dan setiap kepala memiliki keinginannya masing-masing. Manusia sebagai sesuatu yang memiliki kesempurnaan karena memiliki struktur yang cukup mumpuni dibanding sesuatu yang lain di bumi ini. Dari hal yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Bahkan kata saja memiliki berbagai macam bahasa untuk berkomunikasi.

Dari banyak hal tentang manusia adalah kata dan kata ada karena “cangkem”, kata merupakan hal yang sangat besar implikasinya dalam kehidupan. Sekian banyak kecenderungan perang sebenarnya dimulai dari kata. Dari perang yang sangat tradisional sampai perang besar yang melibatkan banyak manusia. Sedikit saja manusia itu tidak bisa dibatasi, karena secara naluriah manusia seperti cairan, selalu meluber jika banyak dan akan meresap jika ada pori yang mungkin untuk diresapi. Sepertinya cairan adalah zat yang baik, akan tetapi kebaikan cairan hanya ada di beberapa sisi, selebihnya jika di biarkan akan menjadi ancaman yang cukup mengerikan.

Senjata utama manusia untuk survive adalah “cangkem” dengan cangkemnya ia beradaptasi dengan lingkungan dia hidup sedangkan fisik sudah menjadi hal biologi yang berjalan tanpa adanya persoalan yang rumit. Dari cangkemnya inilah manusia mengada dan berada. Namun cangkem manusia terkadang amatsangat membutuhkan “cencang” atau kekang yang cukup agar tidak menjadi singa atau banjir yang sesungguhnya. Sedangkan untuk menghadirkan cencang/tali kekang ini manusia tidak sertamerta mampu, butuh proses pembelajaran dan pendidikan. Jika saja tidak ada sekolah cangkem akan tetapi pendidikan tatakrama dalam masyarakat dan lingkungan mengajarkannya untuk berlatih mengendalikan cangkemnya.
[next]
Pertanyaannya kenapa kalau manusia mulutnya disebut dengan cangkem sedangkan hewan menggunakan “congor”? Ini perbedaan penggunaan bahasa dalam bahasa Jawa. Bahasa Jawa mengenal berbagai istilah untuk menyebut satuhal, contohnya cangkem dan congor itu sendiri. Kaloau cangkem lebih kepada kemampuan untuk memilah dan memilih apa yang akan dimasukkan/dimakan (dipangan) sedangkan “congor” hanya bergerak berdasarkan nalurinya saja, apapun bisa dimasukkan namun hanya satu jenis yang di keluarkan, gonggongan atau hanya cicitan belaka. Jika yang keluar dari cangkem bisa berupa bunyi dan suara, sedangkan yang keluar dari congor hanya bunyi belaka.

“Yen di cancang mingkem” ini sendiri merupakan filosofi Jawa untuk menyatakan bahwasannya mulut manusia bisa di kendalikan dengan cara mengekangnya, sedangkan salah satu bentuk mengekangnya adalah dengan mengajarinya bertatakrama denga berpengetahuan yang memadai. Sedangkan cara bertatakrama itu sendiri salah satunya adalah belajar mengabdikan diri pada diri pribadi sebagai yang berkepribadian yang utuh. Cangkem tidak boleh seperti cangkir yang selalu melongo dan menguap begitu saja. Cangkem boleh melongo jika memang dibutuhkan. Sedangkan cangkir hanya tertutup jika menemukan tutupnya, ini bedanya degan cangkem. Akan tetapi disisi lain cangkir akan selalu setia menemani cangkem kala pikiran manusia sedang bergerak, sebab secangkir kopi mampu mengekang mulut agar tidak meracau tak karuan. Dengan secangkir kopi cangkem akan diam dan kembali merenung menemukan hakekatnya. Karena mau tidak mau cangkir akan melongo dan memberikan seruputan kopi pada cangkem. Ketika cangkem sudah menapaki terkendali maka cangkir akan mengambil perannya sebagai “cancange pikir”, yang artinya mengendalikan pikiran agar tidak melambung atau tenggelam. Membiarkannya tetap mengapung pada kenyataan sehingga masih mampu berlayar meski badai kehidupan menerpa manusia.

Kala keduanya bergerak menemukan hakekatnya sendiri-sendiri dan mata memandang keatas, maka mata akan menemukan sekuntum “cengkir” di pohon kelapa. Cengkir dalam filosofi Jawa adalah “kencenge pikir”, artinya memiliki keyakinan yang kuat dan idealisme yang mapan untuk meraih mimpi yang sudah terlanjur di beli oleh orang kaya. Dengan demikian sekecil apapun posisi manusia dalam filosofi Jawa tidak ada yang remeh, semuanya memiliki perannya masing-masing untuk menopang dunia. Tak ada satupun manuisia yang tidak berarti, keberartianya pun berdasarkan keondisi dan perannya masing-masing. Jika salahsatu peran di dunia iini tidak ada, maka menurut pandangan jawa dunia ini sudah tidak memiliki kelengkapannya. Kelengkapan adalah sarat mutlak adanya dunia. Sebab cakra tidak akan mampu berputar jika lingkarannya tida penuh atau tepung gelang.***
___________
(Avatar Huda)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon