Saturday, October 21, 2017




Bagi PKI (Penikmat Kopi Indonesia), kopi bukanlah segalanya namun segalanya bisa saja membutuhkan kopi. Saat bangun tidur sebelum mandi, minum kopi; akan memulai aktifitas apapun aktifitasnya, dimulai dengan minum kopi; saat istirahat dari aktifitas, minum kopi; otak beku butuh inspirasi, ngopi; marah dengan teman kerja, sembuh dengan ngopi. Segalanya butuh kopi. Singkatnya kopi adalah bagian dari ritual.

Kopi seperti kebutuhan yang tak bisa dihindari, kopi bagi orang-orang semacam ini hampir seperti candu. Bahkan, jika dalam hal ngopi ada semacam kegiatan peribadatan maka kopi bisa saja menjadi agama tersendiri. Maka bisa jadi semboyan "agama adalah candu" akan diganti menjadi "kopi adalah candu". Memang benar, kopi bisa saja menjadi candu bagi orang yang biasa mengkonsumsinya. Sebab kata orang demikian:

Saat mengkonsumsi kopi, reseptor pada otak yang menjadi tempat bersarangnya adenosin untuk memproduksi rasa lelah, digantikan dengan molekul kafein yang menghalangi adenosin bersarang pada otak. Hasilnya, rasa lelah itu pun hilang karena adenosin tidak bersarang di otak Anda.

Ketika efek ini terjadi dalam jangka waktu yang lama, artinya Anda mengonsumsi kopi dalam rentang waktu yang lama, otak akan memproduksi lebih banyak reseptor untuk kafein.  Saat Anda melewatkan ritual minum kopi yang biasa Anda lakukan, reseptor tersebut akan kosong dan kembali diisi dengan adenosin yang membuat Anda merasa lelah, lemas, bahkan tak bersemangat seperti saat Anda mengonsumsi kopi. Hal inilah yang membuat seseorang seperti kecanduan minum kopi.

Kopi, meskipun bisa menyebabkan kecanduan masih bisa dimaklumi, kopi masih memiliki wujud yang nyata dengan efek yang nyata dan terasa bagi tubuh. Namun, bagaimana dengan agama? Seperti kata orang yang sangat terkenal itu, yang berbunyi demikian: "Die Religion … ist das Opium des Volkes". Meskipun, kalimat lengkapnya jika diInggriskan berbunyi: “Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people”. Namun karena kepentingan ideologi tertentu yang kontra dengan ideologi orang yang sangat terkenal ini maka kata-kata tersebut dipotong, dan lebih dipopulerkan dengan kalimat ".....religion is the opium of the people...." untuk menimbulkan kesan bahwa ideologi yang satu ini kontra agama.

Namun berbeda dengan efek candu kopi, Efek candu agama berdasarkan penafsiran orang yang anti kepada pemilik kalimat "agama adalah candu", terlebih orang yang terlanjur fanatik tanpa bangunan pengetahuan keagamaan yang cukup, bisa menyebabkan orang lain menderita bahkan menyebabkan kematian. Bagaimana tidak? Orang yang terlanjur fanatik terhadap agama tertentu menganggap orang lain selain penganut agamanya salah dan pantas untuk ditumpahkan darahnya.

Kalau pecandu kopi yang fanatik, paling tidak hanya sebatas menghindari warung kopi tertentu yang dirasa kopinya kurang pas dan mencari warung kopi lain yang dirasa lebih pas. Tanpa ada pertumpahan darah, tanpa ada pertengkaran yang dipertontonkan di depan publik.

**Salam Tjangkir, semoga kita tetap sejahtera***


Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon