Wednesday, October 25, 2017



Ada sebuah iklan di salah satu media online. Iklan salah satu merek sepatu terkemuka. Memang, sepatu tersebut masuk dalam kategori sepatu bagus. Tak lupa, di dalam iklan tersebut dicantumkan mutu dan kwalitas bagus. Bukan hanya sepatu, kecap juga demikian, obat anti nyamuk tak ketinggalan menggunakan semboyan mutu terjamin. Lalu, produk apa yang kira-kira tidak menjamin mutunya? Tidak ada, hampir semua produsen menjamin mutunya masing-masing.

Bagi konsumen, mengkonsumsi sesuatu tidak lepas dari mutu. Bisa saja mutu yang dimaksud adalah keawetan, kenyamanan, keindahan barang yang dikonsumsi atau bisa juga hal-hal lain. Konsumen obat anti nyamuk misalnya, mereka membeli anti nyamuk berdasarkan pertimbangan mutu, mutu yang dimaksud adalah bereaksi cepat dalam mengusir nyamuk tanpa meninggalkan residu beracun yang berbahaya. Namun, anti nyamuk tetaplah anti nyamuk yang mengandung unsur racun dan tetap meninggalkan residu beracun.

Seorang yang pernah satu meja di warungpun juga demikian, membeli handphone dengan kwalitas terbaik demi keawetan. Kala itu, handphone yang dimaksud memang masuk dalam jajaran handphone bagus dan tidak murah dia harus bekerja dan menabung beberapa bulan untuk mendapatkan handphone impiannya. Namun, setelah handphone terbeli baru beberapa bulan, menjamurlah smart phone. Kala itu black berry. Diapun merasa menyesal telah membeli handphone yang dibelinya yang kelewat mahal itu. Sebab, handphone yang mahal ini, tidak sebagus blackberry yang kala itu mulai tenar. Dan teman-teman sekantornya sudah hampir semua beralih ke Black Berry. Dia mengatakan, hal ini adalah sebuah kesalahan. Kenapa dia tidak sabar untuk beberapa bulan menunggu agar bisa membeli black berry. Padahal handphone yang dibelinya ini juga menjamin mutu di iklan-iklannya. Dan keawetan yang dimaksudpun tak diragukan lagi. Namun, keawetan barang tidak seawet kebutuhan akan fitur yang dimiliki.

Demikian juga seorang tetangga, memilih sekolah untuk anaknya yang dirasa paling bermutu kala itu. Iuran bulanannyapun bisa dibilang mahal, diatas sekolah lain. Dengan harapan jika lulus kelak, sang anak bisa langsung diterima di lowongan pekerjaan yang diharapkan. Namun kenyataannya tidak demikian, ternyata setelah lulus sang anak juga harus kesana kemari untuk melamar pekerjaan dan kemungkinan diterimapun sama dengan mereka yang lulusan sekolah biasa. Padahal sekolah yang dimaksud juga menjamin mutunya lewat jargon-jargon yang selalu diucapkan di iklan-iklan mereka.

Pada akhirnya, sering kali mutu yang dijargonkan produsen adalah mutu dalam wilayah-wilayah tertentu, bukan mutu yang sering kali kosumen pikirkan. Karena memang produsen bukanlah peramal masa depan.

Namun, tidak semua hal bisa dipukul rata demikian. Masih ada beberapa hal yang memang harus mengutamakan dan mengedepankan mutu.




Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon