Sunday, October 15, 2017



Dalam kehidupan sering ditemukan kata-kata yang berdasarkan kalimat racun. Menurut pengertiannya racun (lih wikipedia adalah sesuatu zat yang dapat mempengaruhi dan mengganggu organisme. Namun pada pekembangannya racun tidak selalu bersifat negatif, pada kondisi tertentu racun akan menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan lebih dari manfaat yang seharusnya. Namun kondisi itu tentu dengan syarat dan ketentuan yang harus di penuhi.

Racun tidak berkutat pada hal-hal yang sifatnya material saja (biologi maupun kimiawi). Namun sebenarnya racun akan lebih berbahanya jika sifatnya berupa mental yang di infuskan melalui pemikiran. Namun dengan cara ini prosesnya lumayan cukup lama, dan bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk membuktikan khasiat dari racun ini. Namun racun jenis ini lebih berbahaya dan terkadang ciri-ciri keracunannya tidak mudah terdeteksi, terlihat normal dan biasa saja. Bentuk keracunan nalar biasanya terjadi karena dipicu oleh ketidakpuasan pada diri sendiri maupun kondisi lingkungan dia sendiri sehingga kondisi ini mendorong manusia untuk mencari kondisi yang dia anggap nyaman dan tenteram. Tetapi sekali lagi rumput tetangga lebih hijau, sifat tidak mau menerima kondisi (ora nerimo ing pandum) sebagai sifat dasar manusia, semakin suburlah sifat itu dengan pupuk kondisi yang tidak diinginkan yaitu kemapanan.

Rape(racun pemikiran) sifatnya laten, dan bisa muncul dan menyebar namun tidak bisa di tanggulangi maupun di detox. Bahkan lebih sering menjadi sebuah momok ketika ditanggapi secara negatif akan tetapi akan dia anggap dewa penolong jika diterima secara positif. Seperti komunisme, secara mendasar ide sosialisme-komunisme ini baik dan seharusnya demikianlah manusia hidup, komunal dan saling menguntungkan satu dengan yang lain. Yang memiliki kelebihan memberikan ruang yang lain dengan tidak mengikutsertakan mencari keuntungan dari yang terbatas. Berbagi sebagaimana manusia yang manusiawi, tidak akan menerkam manusia lain bahkan menghisap darahnya. Memanfaatkan segala yang ada demi kebersamaan dan keuntungan bersama. Akan tetapi karena sifat dasar manusia yang selalu mencoba untuk menjadi superior dan secara mendasar memiliki “hasrat untuk berkuasa” atas yang lain maka nilai bijak komunisme menjadi momok ketika berubah menjadi “totalitarianism” yang mana langka ini dibangun atas dasar politik kekuasaan yang bebaju demokrasi dan mengatasnamakan rakyat. Namun pada dasarnya hanya menguntungkan sebagian orang untuk memenuhi hasratnya akan sebuah fasilitas. Dari lingkaran komunisme yang di dektekan oleh Karl Mark ini secara mendasar hanya sebuah kritik atas kekuasaan yang ada pada masa itu, konteknya adalah jaman dimana dia hidup dan melihat. Namun pemikiran originalnya menjadi sebuah momok di negara-negara yang berkiblat pada kapitalisme karena “hantu” yang bernama komunisme itu sengaja diciptakan sebagai momok karena jika diterapkan secara jujur dan teratur seperti impian Marx, para pemilik modal dan kalangan mapan yang telah menguasai lapangan industri dan perdagangan akan tersisihkan karena adanya kekuatan lain yang menghendaki “pemerataan”.

[next]
Pemerataan disini bukan berarti totalitas yang kejam seperti yang diterapkan oleh lenin maupun oleh Korut. Sehingga harus memenjarakan hak yang dimiliki oleh manusia sebagai manusia dan dibatasi oleh negara. Namun sebuah tindakan adil untuk menjalankan dan memenuhi kewajiban yang sama, tidak boleh ada personal yang berkuasa, yang berkuasa adalah sistem bukan personal yang menduduki posisi tertentu dalam sistem tersebut. Sehingga meskipun memiliki lahan yang luas dan ruang yang lebih maka pemilik ruang tersebut hanya memiliki hak yang sama dengan pekerja yang dipekerjakan dan memiliki gaji yang sesuai dengan kondisi yang ada, tidak ada pemilik yang kekayaannya melampaui pekerja yang di pekerjakan, disana tidak ada tuan dan tidak ada babu, semua memiliki hak yang sama untuk memanfaatkan dan menggunakan, yang ada adalah berbagi tugas dan berbagi keuntungan, bukan saling menguasai. Jika ada yang merasa menguasai maka disana sudah terjadi anomali yang harus diluruskan secara manusiawi pula. Dari komunisme ini dapat diambil pelajaran bahwasannya manusia itu harus manusiawi dan berbagi dengan manusia lain sehingga menjadi sekumpulan manusia yang manusiawi. Bukan yang saling menguasai dan memangsa layaknya hewan di rimba.

Dan contoh lain dari yang dinilai positif dan diterima sebagai dewa yaitu kapitalisme. Kapitalisme ini sebenarnya tak ubahnya seperti vampire bahkan lebih kejam lagi. Sebab jika dilihat lebih detail pada slogannya “dengan sedikit modal demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya”, dari sini bisa dirunut kebelakang jika sebenarnya konsepkapitalisme yang mengagungkan hak pribadi secara luas dan memandang manusia sebagai “homo economicus” yang mengejar keuntungan pribadi seluas-luasnya maka jangan salah jika dalam prakteknya buruh hanya sebagai alat atau dipandan sebagai alat (sources) yang bisa dipermainkan sehingga apapun caranya dan bagaimanapun jalannya akan ditempuh untuk mengumpulkan keuntungan yang bayak, disini toadak ada manusia yang ada adalah “staff” yang menjalankan fungsinya. Tak penting pertimbangan-pertimbangan, yang penting memenuhi target dan mendapatkan surplus yang lebih demi kantong yang disediakan. Karena konsepnya adalah keuntungan/surplus maka keserakahannya sudah tidak mempertimbangkan lagi kondisi yang terjadi dilapangan. Merugikan orang disekitar atau menggusur tak penting.demikian kejamnya permainan aliran ini namun tak terlihat kejam dan terlihat mamis karena berbagaimacam kegiatan amal dilakukan seolah-olah tidak bermain lagi dibelakang kegiatan amal tesebut. Dalam rangka kegiatan amal tersebut mereka melakukan promosi besar-besaran terhadap korporasinya dan gratis bahkan akan mendapatkan keuntungan yang lebih daripada harta yang diamalkan.

Dengan kegiatan amal ini mereka dengan sendirinya telah membangun jaringan bisnis yang semakin kuat dan semakin rapat barisan yang di bangun, sebab dengan membuat kegiatan amal ini mereka sedikit banyak telah meredam kekacauan di kalangan bawah yang telah merasa ditolong dan membunuh kesadaran kritis mereka kenapa mereka selalu terpinggirkan. Di kalangan menengah (pemangku kebijakan) mereka mendapatkan aplaus yang mereih karena telah meringankan beban mereka dari tanggung jawab untuk menyejahterakan para rakyat. Sedangkan di kalangan mereka sendiri mereka dengan sendirinya telah merencanakan gerakan baru untuk memerah lagi dengan menggunakan cara yang lain yang baru akan tetapi dengan modus dan tujuan yang sama, Yaitu surplus yang lebih banyak dari sebelumnya.

[next]
Ini merupakan kumpulan akal bulus yang pada taraf tertentu disebut dengan isme/aliran. Karena pada lingkaran ini yang menonjol adalah laba yang tinggi apapun caranya. Seperti terjadinya penjajahan nusantara Yang dilakukan oleh sebuah CV yang bernama VOC selama ini, mereka sebenarnya adalah sekumpulan pengusaha serakah yang menginginkan kesuksesan sebab dinegeri sendiri mereka sulit untuk mendapatkan kesempatan menjadi kaya kemudian mereka merantau ke Hindia Belanda dari menjadi kuli terrendah dan mencoba membangun karir dengan berbagai macam cara, bahkan dengan cara yang paling licik sekalipun. Dan penjajahan yang terjadi di negara yang bernama Indonesia pada saat ini sebenarnya masih berlanjut meskipun secara defacto maupun dejure merdeka semenjak 1945 Indonesia belum merdeka sama sekali, sebab segala lini besar yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak masih di kuasai oleh segelintir person dan beberapa perusahaan besar yang notabene bukan milik negara Indonesia melainkan milik orang asing yang memiliki kuasa yang mengatasnamakan diri sebagai pemilik saham atau mereka yang memilki modal. Selama perusahaan besar yang memiliki kuasa atas modal yang dapat mempengaruhi kebijakan negara masih berada ditangan kotor mereka maka sebenarnya negri ini masih belum merdeka. Dan tidak pernah akan merdeka.

Para pengagum dan mereka yang berada dalam aliran ini dan masih menjadi orang yang “miskin” sebenarnya mereka telah diracuni dengan pola pendidikan yang diajarkan maupun pendidikan yang diwariskan oleh penjajah di masa lampau. Jika masih percaya pada kebaikan dari konsep dan pelaku kapitalisme sebenarnya mereka telah pingsan dari kesadaran manusiawinya sehingga dengan mudah kemerdekaan mereka terbeli dengan setatus dan angan-angan tentang kemuliaan.(Avatar Huda)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon