Wednesday, October 4, 2017





Ini cerita dari seorang teman ngopi saat masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi.

Teman saya ini, memiliki banyak kenalan bahkan teman akrab dari berbagi kalangan, mulai dari mahasiswa kos-kampus hingga aktifis kelas kakap. Jadi saya tidak heran kalau ceritanya soal dunia per-mahasiswaan demikian banyak. Teman saya ini, sebut saja namanya dengan Dablek, teman-teman memanggilnya Mbah Dablek. Karena dia memiliki kemampuan merangkul semua kalangan teman-teman seusianya tanpa membedakan identitas.

Ceritanya demikian:
Salah satu temannya Mbah Dablek ini saat masih mahasiswa adalah seorang aktifis "minded" (istilah untuk aktifis yang sangat rajin dalam dunia per-aktifis-an). Teman Mbah Dablek ini mengklaim bahwa mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi adalah orang yang merugi. Alasannya, saat menjadi mahasiswa adalah kesempatan belajar secara maksimal dalam hal berorganisasi, dan pengalaman ber-organisasi adalah pengalaman yang diutamakan saat mereka terjun ke masyarakat nantinya. Kuliah dan nilai IPK adalah nomor sekian setelah pengalaman organisasi. Karena IPK dan nilai di ijazah tidak akan ditanyakan di masyarakat namun apa pengalaman yang kamu dapat saat masih kuliah. Jadi, teman Mbah Dablek ini jarang-jarang masuk kelas. Karena lebih penting organisasinya dibanding kuliahnya.

Saat peringatan hari-hari besar nasional, teman Mbah Dablek selalu aktif dalam berunjuk rasa untuk menyuarakan aspirasi rakyat kecil, sambil meneriakkan dan menyanyikan yel-yel kemahasiswaan dan kerakyatan semacam "buruh tani mahasiwa kaum miskin kota" dan lain-lain. Mbah Dablek ingat saat peringatan Hari G30/S PKI, mereka menyuarakan dan menyuruh pemerintah untuk meperjelas kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa terjadinya keributan PKI dan pihak-pihak bersangkutan kala itu, mereka menginginkan agar pemerintah segera mengusut siapa tersangka dibalik kasus yang menjadikan PKI sebagai kambing hitam sepanjang sejarah, dan membersihkan nama-nama korban dan keluarga korban yang tertuduh sebagai PKI.

Masih dalam rangkaian peringatan G30/S PKI ini, malam harinya mereka menonton bersama film Soe Hok Gie dan mendiskusikan film ini dari sisi pandang ke-aktifis-an Soe Hok Gie. Hal ini dilakukan untuk sedikit memberikan pencerahan kepada kader-kader organisasi untuk menjadi mahasiswa yang benar ala Soe Hok Gie dan mengikuti jejak ke-aktifis-an Soe Hok Gie.

Dalam forum-forum diskusi di kampus, di kantor organisasi bahkan di warung kopipun, teman Mbah Dablek ini sering membahas tentang kebaikan ideologi sosialisme, komunisme, marxisme dan  marhaenisme sekaligus meng-antagonis-kan Kapitalisme. Mereka menyebut-nyebut Karl Marx sebagai pahlawan ideologi, bahkan tak jarang mereka me-"nabi"-kan Marx.

Dalam kesempatan lain, teman-teman Mbah Dablek ini selalu aktif dalam mengawal isu yang berkaitan dengan rakyat kecil. Misalnya, suatu kali saat presidennya Pak Anu, harga pupuk sempat naik tinggi dan langka dipasaran. Teman-teman Mbah Dablek ini dengan antusias mengkoordinir masyarakat untuk berunjuk rasa menekan pemerintah untuk sesegera mungkin menurunkan harga pupuk dan membuka keran distribusi pupuk ke daerah-daerah agar petani bisa segera bisa menjangkau pupuk. Saat ditannya wartawan salah satu koran: "memang harga pupuk sekarang berapa mas...?". "Saya tidak tahu mas, tanya langsung ke mas yang itu..." jawab teman Mbah Dablek menunjuk temannya yang lain.

Entah punya doa apa teman-teman Mbah Dablek ini; meski mereka jarang masuk kelas, jarang mengerjakan tugas, IPK tidak jelas, namun mereka bisa lulus layaknya mahasiswa umumnya. Mungkin, itu salah satu kelebihan para aktifis, bisa lulus dengan "bibir manis".

Syahdan, mereka telah menjadi sarjana...
Dan mereka juga bertebaran dimana-mana. Diantara mereka ada yang masuk dalam struktur partai politik mempraktekkan ilmu ke-aktifis-an yang mereka peroleh saat masih kuliah.
Dan, secara kebetulan, Mbah Dablek mendapat kabar dari televisi bahwa partai yang mereka ikuti adalah partai yang kadernya banyak yang tersangkut kasus korupsi. Sehingga, menurut Mbah Dablek para mantan aktifis kampus ini sedikit banyak memakan gaji dari sebagian hasil korupsi dari kader-kader partai yang korup ini. Di waktu yang lain, saat peringatan G30S/PKI mereka menjadi promotor dalam menonton film "Pemberontakan PKI" yang dulu kata mereka film ini adalah sarana pengaburan fakta sejarah PKI yang sebenarnya dan sebagai sarana doktrin Orde Baru kepada seluruh rakyat Indonesia untuk selalu mengkambinghitamkan PKI.

Sehingga, karena hal ini, Mbah Dablekpun bertanya-tanya. Kemana rasa dan pola pikir idealis yang mereka teriakkan kepada kader-kader organisasi mereka saat mereka masih menjadi aktifis kampus?. Apakah menjadi aktifis bagi mereka hanya lahan untuk menunggu giliran menjadi penindas yang lain, diwaktu yang lain pula? Apa ini yang disebut aktifis kampus kritis setelah lulus kronis?

Blank......

Ah..sudahlah Mbah...sudah waktunya ngopi...kopi hitam yang pahit, dicangkir yang gambarnya sudah mulai memudar.....


••••°°°°••••

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon