Sunday, October 1, 2017

Suatu hari Budi mendownload sebuah game dari Playstore. Game itu begitu menarik awalnya, namun makin lama Budi kesal karena kesulitan makin tinggi. Maka Budi akhirnya memutuskan untuk melakukan top-up demi mendapatkan item langka, yang pemain lain tak mungkin bisa mendapatkan kecuali dengan membeli. Mau seterampil apapun pemain itu.

Sekelumit kisah di atas adalah fenomena yang terjadi saat ini. Begitu biasa hingga hampir tak terasa.
"Game berubah dari banyak-banyakan skill, jadi banyak-banyakan modal." Begitu pikir saya ketika obrolan ini mendadak mencuat di warung kopi.

Tapi tenang, wahai bro dan sis sekalian, yang pernah melakoni dan kini merasa terhakimi. Tidak yang bilang bahwa itu salah. In-App Purchasing atau disingkat IAP dalam game sesungguhnya sah secara hukum dan tidak ada larangan melakukannya. Namun mempertimbangkan semangat berkompetisi anda sebagai gamer, bukankah hal tersebut tidak etis?

Hanya karena anda memiliki uang, anda menang. Mengalahkan orang yang sesungguhnya lebih pantas menang namun tak mampu atau mau membayar. Mungkin ini yang disebut, jalan pintas dianggap pantas.



Lain di dunia gaming lain pula di dunia nyata. Yang meski lain, sesungguhnya tak terlalu beda juga. Sebab dunia nyata lebih mirip game dengan grafik UHD Pol (Ultra High Definition Pol), AI luar biasa realistis, dengan kesulitan super hard.

Namun ada pula persamaannya, sama-sama bisa di-cheat. Hehehe.

Dunia nyata yang penuh dengan perlombaan perburuan kesempatan ini tidak lagi membuka pintu dengan kemampuan dan keuletan sebagai kuncinya, namun juga modal.
Kasih fulus urusan mulus, mungkin begitu istilahnya.



Sungguh, saat ini uang benar-benar menjadi motor berputarnya dunia. Ia seakan menjadi jaminan kesepakatan yang maha universal. Semua orang paham, dan langsung enak diajak​ bicara.

Bagaimana tidak? Wong dengan uang kita bisa ngopi :)

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon