Saturday, September 30, 2017


pewarta yang busuk hati



Warta berita, informasi, apapun istilahnya dan apapun isinya kini demikian ramai dan bertebaran didunia maya. Kontennya, dari mulai yang paling positif, hingga yang paling negatif, bahkan menjijikkan.

Entah salah siapa. Jika mencari kesalahan, tak akan ada yang mau disalahkan. Semua akan berdiri dan mempertahankan kebenarannya masing-masing.

Yang jelas, berdasarkan urutannya; Warta berawal dari sebuah peristiwa, peristiwa diamati atau direkam oleh calon pewarta, pewarta menuliskannya atau menyunting sedemikian rupa sesuai kebutuhan, masuk ke editor (jika ada) selanjunya warta disampaikan ke publik. Publik menerimanya. Dan, penerimaan publik juga berbeda-beda ada yang menanggapi dengan positif ada pula yang menanggapi sebaliknya. Tak cukup hanya sampai pada sekedar disampaikan ke publik, publik menyebarkannya lagi sebagian dengan menggunakan komentar-komentar, komentar ini yang kemudian mempengaruhi perspektif publik yang lain.

Jikapun pewarta yang menyampaikan berita dengan baik dan jujur sesuai kaidah yang disepakati bersama, kadang publik yang sedemikian banyak dengan pola pikir yang berbeda-beda memahami sebuah warta juga berbeda-beda. Satu kelompok memahami sebuah warta sebagai kebaikan, kelompok yang lain memahaminya sebagai keburukan.

Terlebih jika, pewarta dengan sengaja menggiring opini publik untuk tujuan tertentu. Kekacauan misalnya maka, dengan mudah publik akan kacau. Lha wong tidak bertujuan untuk kekacauan saja publik ada kemungkinan untuk kacau.

Jika dirunut sumber pertama sebuah warta, maka sumbu pertama adalah pewartanya. Tidak jarang, karena tujuan tertentu pewarta mengambil sisi pandang berbeda dari sebuah kejadian yang akan diwartakannya.

Misalnya cerita yang pernah saya peroleh dari sebuah warung ini. Disudut sebuah warung, seperti biasa, ngopi...

Tampaknya dia adalah pewarta pemula yang sedang menyusun sebuah berita. Disampingnya, seorang pewarta juga, pemain lama dalam bidang warta- mewarta, sekaligus dia adalah seorang pemimpin sebuah organisasi LSM ternama.

Berita yang disusun, menurut apa yang saya dengar, tentang peristiwa kekeringan di daerah Ponorogo selatan. Pewarta pemula ini bingung, warta yang disusun harus seperti apa. Pewarta lama sekaligus pemimpin sebuah LSM ini menjawab panjang lebar yang intinya pewarta baru itu disuruh untuk mengambil sisi pandang ketidakbisaan pemerintah dalam mengantisipasi kekeringan di Ponorogo.

Si pewarta pemula bingung sebab hasil wawancara dan penggalian data tidak ada yang menyatakan hal itu. Pewarta lama ini berkata:
" Lah...polos, koe. Mengko yen beritane kok gawe ngono, awakmu dolan-o neng BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) cethukono pak kae (menyebut nama orang penting).... dudohno beritamu, minggu ngarep awakmu wis iso entuk sangu."

Artinya, warta yang disusun sedemikian rupa ini bisa dijadikan alat untuk mencari uang saku ke pemerintah terkait. Sedangkan --misalnya-- masyarakat sebagai konsumen warta tidak memperoleh sesuatu kecuali kebencian kepada pemerintah dan emosi sebab pemerintah tidak bisa mengantisipasi bencana kekeringan ini.

______________________
Namun,...
Percayalah...!!
Masih banyak pewarta yang baik dan jujur....

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon