Thursday, September 28, 2017

Apa yang membuat seorang pesulap seperti memiliki sihir? Bagaimana mereka mengatur sesuatu yang kita benar-benar tahu merupakan tipuan, lewat di depan kita begitu saja tanpa kita sadari? Kita selalu berpikir, pesulap seolah mampu membuat kita memilih mana yang kenyataan dan mana ilusi. Dunia sulap menyebut kemampuan dasar itu dengan Misdirection.

Misdirection atau pengalihan perhatian, menurut Henry Hay, seorang penulis, adalah kemampuan wajib para ilusionis untuk memanipulasi ketertarikan audiens. Ilusionis mampu menghadirkan kenyataan rekaan dengan menutupi kenyataan yang sebenarnya. Segala kemampuan seperti kelihaian bertutur, kecepatan tangan (keterampilan), sangat efektif untuk mengalihkan perhatian audiens.



Menariknya, kemampuan ini ternyata tak hanya dimiliki oleh para ilusionis saja. Media pemberitaan, dalam prakteknya merupakan seorang pesulap handal dengan panggung luar biasa besar. Karena nyatanya, disadari atau tidak, minat kita sebagai audiens atau konsumen berita diatur sedemikian rupa oleh media.
Sekali waktu kita diarahkan kepada suatu kasus korupsi, di waktu yang lain kita dibelokkan keras-keras ke kasus 'pembantaian' sebuah etnis dari antah berantah.

Apakah kita protes? Tidak. Kita santai saja seperti sapi digelonggong. Karena berita hadir dalam kemasan-kemasan yang menggoda rasa lapar kita akan informasi yang takkan bisa kita tolak. Saat itu, berhasillah sang pesulap media dengan Misdirection-nya.



TV sebagai salah satu pemasok berita paling masif merupakan contoh nyata. Berita pagi, berita siang, dan berita dadakan di sela-selanya merupakan menu wajib masyarakat sebagai syarat disebut 'masyarakat berwawasan'. Saat ini mungkin kita begitu menggebu-gebu soal kasus kemanusiaan Rohingya, namun begitu pemilik TV ingin membelokkan arah fokus masyarakat kita akan melupakan segala tetek bengek Rohingya ini tanpa kita sadari.

Motivasinya? Sudah jelas. Kepentingan segelintir orang. Para elit. Bisa elit politik, bisa elit bisnis. Kalangan yang memandang masyarakat biasa seperti kita sebagai sekedar angka. Sebab, selain sebagai media pemberitaan, TV juga merupakan perusahaan. Dengan kata lain, profit-minded. Keuntungan dari pemberitaan adalah salah satu hal yang diperhitungkan oleh perusahaan media.

Sementara itu, kita di rumah menonton TV masing-masing dengan takzim. Bertepuk tangan atas performa pesulap-pesulap berita itu.

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon