Saturday, September 23, 2017



Paham komunisme menjadi pembicaraan hangat saat ini.
Hal biasa terjadi sebagai peringatan G30S/PKI

Saya masih sangat ingat ketika di setiap buku pelajaran sejarah Sekolah Dasar (SD) tertulis pemberontakan PKI yang mengerikan. Juga baru saya sadari bahwa ada semacam framing dalam penulisan buku-buku yang menjadi doktrin bagi anak-anak usia dini tersebut. Tulisan-tulisan tersebut telah dibuat semacam untuk mengkonstruksi pikiran pembaca yang pada akhirnya pemahaman terhadap PKI memang benar-benar kejam. Kebencian terhadap komunis pun menjadi-jadi karena cerita-cerita dari pelaku sejarah yang masih hidup. Pembantaian diceritakan dengan ganasnya.
Sebagai contoh, sungai di desa Wilangan kecamatan Sambit kabupaten Ponorogo yang bening berubah warna merah darah kala pemberontakan meletus dan dijadikan sebagai tempat pembantaian manusia. Masyarakat yang tidak tahu sebab musababnya lari tunggang langgang mencari persembunyian. Bahkan nenek dan kakek saya bercerita bahwa mereka harus bersembunyi di dalam lubang bawah tanah. Yang menjadi pertanyaan saya, benarkah PKI sekejam itu? Apakah benar para pengikut komunis yang mengaku sebagai pejuang sosialis melakukan tindakan sekeji dan seganas itu? Apakah ada pihak dibalik pihak yang hanya memanfaatkan masyarakat sebagai tunggangan politik?
30 September 1965, pemberontakan PKI meletus yang akhirnya dapat ditumpas oleh seorang perwira sampai ke akarnya bernama Jendral Mayjend Soeharto.  Dalam sebuah film keganasan PKI disebut-sebut ‘Resolusi Dewan Jendral’ yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno. Karena pemerintahan Soekarno yang tegas dan mendukung aliran komunis menjadi tidak sepaham dengan para TNI kala itu.
Tentunya para pengikut PKI yang mendengar hal tersebut sangat resah. Hingga mereka berkonsiliasi menyusun rencana untuk menghalangi kudeta tersebut guna melindungi Soekarno di kursi presiden. Selain itu juga karena Soekarno adalah pendukung terkuat PKI. Lagipula Soekarno juga lebih menyukai politik sosialis-komunis demokratik yang diajarkan Uni Soviet yaitu pemerataan dan kerakyatan daripada dipengaruhi oleh Amerika Serikat.

PKI pun menggerakkan massa dan mendoktrin bahwa rakyat akan semakin sengsara apabila dalam pemberontakan. Sifatnya yang sosialis maka sangat mudah bagi mereka dekat dengan rakyat dengan mencekoki doktrin-doktrin bahwa para jendral sedang berencana busuk kepada presiden. Karena rakyat sedang dilanda ketidakstabilan ekonomi di negara yang belum lama memproklamirkan kemerdekaan, mereka menyetujui doktrin yang disampaikan. Tujuh jendral pun masuk dalam daftar operasi PKI dan diculik di pagi hari pada 30 September 1965. Mereka  diserahkan kepada massa yang telah berkumpul di lubang buaya. Lalu mengapa Soeharto luput dari incaran para PKI?
Barisan Rakyat (Bara) ormas PKI/Foto Ilustrasi/Nusantara news
Pada saat itu Soeharto memang bukan siapa-siapa. Dia hanya prajurit TNI yang tidak diperhitungkan. Pada kenyataannya ia justru sangat berbahaya bagi negara. Terbukti, dia sudah pasti mengetahui rencana Resolusi Dewan Jendral. Dia pun juga mengetahui bahwa PKI akan melancarkan aksinya terhadap ketujuh Jendral. Akan tetapi ia diam. Karena ia tahu dengan terbunuhnya para perwira tinggi jendral tersebut akan mengurangi tangga yang akan ia tempuh untuk menduduki sebuah jabatan tinggi negara, yaitu presiden.
Tahukah anda apa yang sebenarnya Soeharto pikirkan setelah itu? Ia akan menjadikan PKI sebagai kambing hitam dan menyebarkan fitnah bahwa partai komunis tersebutlah yang telah mengkudeta Soekarno dan akan menggulingkannya. Selain itu juga Soeharto mengatakan bahwa PKI telah melakukan penghianatan terhadap negara dengan rencana menjadikan negara berfaham komunis. Mungkingkah PKI akan menggulingkan pihak yang mendukungnya? Hal ini sangat tidak masuk akal. Akan tetapi ketika itu masyarakat Indonesia masih sangat bodoh dalam hal politik. Sehingga pengumuman Soeharto yang mengatakan bahwa PKI telah melakukan kudeta terhadap pemerintahan melalui G-30-S-PKI di stasiun televisi RRI berhasil menghegemoni masyarakat.
Suasana negara kala itu sangatlah memburuk. Perekonomian anjlok, harga pangan menjulang, bahan pangan susah didapatkan, dimana-mana terjadi kerusuhan, anak-anak melihat kekejaman, masyarakat habis akibat pembantaian. Hingga muncullah aksi masyarakat yang berekor pada TRITURA (tiga tuntutan rakyat) yang berisi: Bubarkan PKI, turunkan harga, bersihkan kabinet dari unsur PKI. Doktrin Soeharto terhadap rakyat benar-benar mempan hingga masyarakat sangat membenci PKI akibat peristiwa G-30S/PKI.
Soekarno tidak serta merta menuruti tuntutan rakyat tersebut. Karna sebenarnya ia tahu bahwa ini adalah kerjaan Soeharto. Akan tetapi karena berbagai ancaman dan semakin melemahnya pemerintahan terbitlah Supersemar. Akan tetapi karena isi surat tersebut tidak sesuai dengan keingingan Soeharto, maka ia memalsukan surat tersebut dan menyembunyikan surat yang asli. Hingga kini supersemar tersebut lenyap tanpa diketahui oleh dunia kecuali Soeharto.
Dengan alasan supersemar yang telah dipalsukan, Soeharto memegang pemerintahan dan membersihkan negara dari unsur komunis. Membantai masal antek-antek komunis hingga ke akar-akarnya. Ia juga menyatakan bahwa partai komunis adalah partai terlarang di negara Indonesia. Aktivitas pembantaian ini sebenarnya hanyalah untuk menyembunyikan kebusukan Soeharto dari masyarakat.  
Dari sejarah ini dapat dilihat bahwa sebenarnya ada tindakan adu domba yang dilakukan para politik pemegang kekuasaan. Bukan secara kebetulan, politik ini dimenangkan oleh Soeharto. Benarkah ia menang dengan sendirinya? Ataukah sebenarnya ada otak lain dibalik kekuasaannya?
Dari sini kita boleh berhuznudzan bahwa otak dibalik Soeharto adalah CIA (Central Intelligence Agency). Mengapa? Karena pada masa Soekarno Amerika Serikat tidak dapat masuk untuk menguasai Sumber Daya Alam negara yang melimpah. Maka dengan cara apapun Amerika harus menyingkirkan Soekarno. Soeharto lah yang pada akhirnya menjadi tunggangan CIA. Setelah itu Freeport dan perusahaan Amerika Serikat lainnya masuk dan tumbuh subur di negri kita dengan tidak terasa, lama kelamaan menyengsarakan masyarakat.
Melihat fakta sejarah membuat kita menangis dan mengelus dada, bagaimana bisa rakyat yang tidak tahu menahu dan masih bodoh akibat penjajahan sebelumnya, dipermainkan sedemikian kejamnya. Entah PKI atau TNI bahkan pemerintahan kala itu menurut saya sangat tidak manusiawi melakukan adu domba yang berakibat pada penderitaan serta tangisan rakyat. Marilah kita saling bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkan kita sebagai manusia memiliki rasa kemanusiaan?

Writer : Ariny

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon