Monday, September 18, 2017

Kasus Rohingya penguji kecerdasan manusia



Berita-nya bertebaran di media-media menandakan bahwa berita tentang Rohingya itu sungguh seksi dan laris, gurih bak kripik, hangat seperti pelukan setan.

Konflik agama sengaja didengungkan dengan berbagai tujuan. Bisa politik, ekonomi, atau bahkan lebih parah hanya iseng untuk memancing kerusuhan disini (Indonesia).

Sebagian tulisan di media online memang memandang masalah Rohingya ini dari perspektif sosiologi agama, kultur, budaya, ekonomi dan  sebagian lain sengaja menggorengnya untuk memunculkan sentimen negatif terhadap agama tertentu, dengan membuat kabar bahwa kasus Rohingya adalah kasus berlatar belakang sentimen agama.

Di Indonesia aroma penggorengan ini sangatlah kental, sering kali para penggoreng tidak menampilkan data yang jelas dan detail, mereka lebih sering menggunakan meme-meme yang seakan sengaja memprovokasi agar terjadi kerusuhan untuk kepentingan tertentu, bahkan ada juga yang menyebarkan gambar hoax dengan tulisan-tulisan yang agitatif.

Mulai dari sini, akan kelihatan kelompok agama yang mana yang lebih cepat terprovokasi dengan sesegera mungkin mengucapkan kalimat-kalimat "mantra keagamaan".

Entah secara kebetulan atau memang pengaturan pikiran kelompok "yang itu" dari sononya memang demikian, alumni-alumni nomor cantik ini selalu terdepan dalam hal terprofokasi tanpa mempertimbangkan hal-hal yang mendasari sebuah masalah bahkan, merekapun belum tentu tahu akar permasalahan yang sebenarnya, tapi mereka telah berani teriak "jihad". Dan jihad membantu Rohingnya --sebagian besar-- bagi mereka adalah angkat senjata, dan siapapun yang agamanya sama dengan pihak yang menindas muslim Rohingya di Vietnam maka hukumnya sama, harus diperangi meskipun pemeluk agama yang bersangkutan -- yang ada di Indonesia-- tidak melakukan apa yang dilakukan orang-orang di Vietnam kepada umat beragama lain di Indonesia. CERDAS BUKAN...?

Dan, orang yang mudah terprofokasi biasanya --biasanya lho-- adalah orang yang mabuk, dan orang yang mabuk akalnya tinggal setengah dari keadaan normal.

Dipihak kelompok Islam yang lain, meskipun memiliki "kemarahan" yang sama, tapi memilih sikap berbeda, kelompok ini memilih untuk menganalisa terlebih dahulu akar permasalahan yang menimpa Rohingya. Dan mereka juga memilih jalur perjuangan yang berbeda, membantu Rohingya tidak harus berperang seperti yang dikemukakan kelompok "yang itu" tadi. Bagi sebagian orang, mungkin ini dianggap bertele-tele. Tapi setidaknya menurut saya pribadi ini lebih membawa maslahat, dari pada harus berjuang dengan mengangkat senjata untuk muslim Rohingya tapi angkat senjatanya di Indonesia.

Kata orang, kemarahan akan menumpulkan kecerdasan. Sehingga bagi sesiapa saja yang mudah marah mudah emosi, "seneng gelutan", kapasitas kecerdasannya akan menumpul. Meskipun semua orang sudah pasti pernah marah, namun kecerdasan bisa memoles kemarahan menjadi hal lain yang lebih elegan.

Nesu oleh, nanging aja njur grusa-grusu.

1 komentar:

Dimohon komentator menggunakan bahasa yang sopan. Tidak merendahkan, memojokkan dan melecehkan kelompok lain. Terima Kasih
EmoticonEmoticon